Selasa, 04 November 2014

Menembus Jendela Hati




Angin dingin yang mengalir semilir di lantai roof-top ini mengiringi pertemuan kita yang ke-5 kalinya. Bulan sabit bersinar temaram bersama bintang gemintang di malam yang kelam seakan ikut terdiam menyaksikan kita yang sedang duduk berhadapan, bergenggaman tangan. Kebisuan yang menyelimuti pertemuan kita di malam itu tak juga bergeming. Bahkan di saat hingar bingar live music yang menemani makan malam ini meraung seakan tak berkesudahan. Tetap kita bertahan berdiam. Tak ada cerita yang mengalir dari bibir yang sudah lama kurindukan.

Hanya mata kita yang terus bertatap. Hanya mata kita yang seru bercakap. Sekian purnama tak pernah saling bertemu, biarlah mata kita yang saling bercumbu. Meluapkan rasa dalam dada yang penuh dengan sebuncah rindu. Melihat inci demi inci setiap garis wajahmu, mampu menghapus hari-hari yang berlalu dalam pilu. Sorot matamu yang teduh itu penuh dengan kesejukan, menadah siap berbagi setiap peluh dan ragam keluhan. Lewat mata inilah kita saling percaya, bahwa apa yang kita rasa tak bisa tertutup dengan dusta. Biarkan mata yang saling berbicara, melaluinya lah masing-masing kami tidak bisa mengingkari janji, karena mata adalah sebuah anatomi, yang mampu menembus jendela hati.

 

#SehariMenuliSatu #Day15 @swaragamafm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar