Jumat, 29 Agustus 2014

Bahagiaku...^^



Berada tak jauh jarak setengah meter darimu
Cukup membuatku merasakan kembali kenyamanan yang telah hilang selama beberapa waktu..
Ya, kenyamanan yang telah mengisi hari-hariku..
Menghiasi siang dan senjaku..
Menguntai spasi-spasi kosong dalam biografiku.
Dengan aroma yang hingga kinipun tak berubah.

Hampir tidak ada yang berubah.
Caramu menyapaku..
Senyum simpulmu yang kau sisipkan di tengah-tengah percakapan kita..
Candamu yang tak biasa untuk lainnya tapi akrab denganku..
Ataupun perhatianmu yang selalu tertuju padaku.

Ya, aku masih ingat semuanya.
Dan kini aku kembali menikmati semua itu.

Aku tersenyum.

Tak bisa ku menahan bahagianya hati saat kembali berdekatan denganmu.
Tak bisa aku menghapus rasa yang tetiba membuncah dalam dadaku..
Dan tak bisa aku untuk tidak memikirkanmu, memikirkan kita yang dulu dan kembali menikmati ’kita’ yang sekarang ini.

Aku tak bisa dan tak mau menghapus senyumku begitu saja.

Aku menutup mata.
Aku ingin merekam semua yang aku alami saat ini, dan aku ingin yang terjadi ini bisa tersimpan dengan baik dalam sanubari..
Tersusun rapi dalam memori.
Hingga satu hari aku akan bisa memutar kembali setiap detail dan setiap detik kenangan ini.

Aku bisa merasakan tulusnya semua yang kaulakukan untukku saat ini.
Perhatian yang kau berikan nyata berbeda dengan perhatian dalam pertemuan kita sebelumnya.
Percakapan kita mengasyikkan..dan perlahan tenggelam dalam kelamnya sinar bulan yang menerangi perjalanan malam ini.

Aku merasakan usapan tanganmu yang membelai keningku..
Seakan memastikan aku bisa terlelap dengan damai di sisimu.

Heii, benarkah kau juga merindukan saat-saat seperti ini?
Saat kita bersama kembali?

Dewasa..


 
..dengan kesulitan,
siapapun itu entah anak-anak,
remaja, atau orangtua,
akan tumbuh menjadi dewasa.

..dengan cobaan,
kita akan hidup
menjadi lebih bijaksana.

Rabu, 27 Agustus 2014

Setiaku..



Akan tetap kukirimkan permintaanku..
Akan tetap kulayangkan asaku..
bersama mimpiku di batin sepiku..
bersama rinduku di kering jiwaku..

Meski kamu,

Menghindar dari riak hidupku..
menghapus namaku dari benakmu..
merobek.. mengkoyak pesan-pesan yang kuukir di hijaunya daun.
Hingga ia kering. Mengering.

Selasa, 26 Agustus 2014

Lukisan Jendela Kereta..



Sinar mentari menyeruak menembus dedaunan..
Di tangkai pohon kamboja berwarna merah..
Menerobos dahan pohon palem..
Dan percik cahaya itupun memancar memantul dan membias jendela kereta Sancaka..
Nyaring suara peluit menggugah lamunan
Memberi tanda bahwa kereta sebentar lagi akan diberangkatkan.. Perlahan roda ular besi panjang ini bergerak...
Melaju..
Melintasi sawah luas hijau yang menyejukkan pandang mata.. Sawah yang menguning siap dipanen, bamyak dihinggapi burung-burung kecil yang telah menahan rasa lapar sejak semalam.
Aku terduduk kedinginan di sudut gerbong kereta ini.
Basa basi yang terlontar dari penumpang yang duduk di sebelah tak ku gubris.
Aku lebih memilih memandang jauh ke luar jendela kereta, Menikmati lukisan alam anugrah Yang Maha Kuasa..
Ya, menikmati perjalanan kereta ini mengingatkan semua kenangan masa kecil..
Saat-saat aku sering bepergian menghabiskan hari liburku utk pulang ke Bandung dan Cirebon.
Saat itu aku takjub dengan pemandangan alam yang disuguhkan selama dlm perjalanan.
Dan sekaran ini saat, sekian puluh tahun kemudian aku kembali menikmati nyamannya bepergian dengan kereta api, aku masih saja dibuat takjub dengan pemandangan alam ciptaan Yang Maha Esa.
Betapa indah lukisanNya..
Betapa agung kuasaNya..
Terik panas yang membayang pada dedaunan tidak menyurutkan keindahan yang alam yang kunikmati ini.
Bahkan udara beraroma dedaunan dan terik matahari semakin menambah syahdu lukisan ciptaanNya.
Aku tergugu. Terdiam.
Aku merasa kecil di hadapan ciptaanMu ini ya Allah..
Sungguh agung segala anugrahMu.
Membuatku semakin tunduk akan perintahMu..
Membuatku semakin bersyukur telah Kau limpahkan kami dengan segala rahmatMu yang tak terkira ini…


Jumat, 08 Agustus 2014

Don't Judge A Book By Its Cover..


Dont Judge A Book By Its Cover.

Jangan pernah menilai seseorang hanya dari luarnya saja, hanya dari penampilan, dari fisiknya. Semua itu bisa menipu mata kita. Alangkah lebih baiknya jika menilai seseorang itu menggunakan mata hati, sehingga akan terlihat pancaran aura kepribadiannya. Niscaya kita akan melihat nilai-nilai luhur, budi pekerti yang sebenarnya.

Namun bukan berarti kita harus berpikiran negatif saat pertama kali bertemu dengan seseorang atau seorang teman. Sebagai seorang muslim kita diharuskan untuk selalu berbaik sangka terhadap apapun. Terhadap siapapun. Tidak terkecuali dengan seseorang yang baru pertama kita temui tersebut.
Tidak ada ruginya kok untuk berbaik sangka. Malah mungkin itu bisa menambah pahala (aamiin).
Setelah bertemu dan berbincang-bincang inilah yang mungkin membawa kita untuk bisa menilai seseorang itu. Di sinilah quote di atas itu bisa diterapkan. Pada saat kita menilai seseorang, jangan sekali-kali melihat dari penampilan fisiknya.
Dari beberapa kesempatan berbincang, bertatap muka, mengamati tindakan dan perilakunya inilah kita baru bisa menilai orang tersebut. Apakah tutur katanya sopan dan tulus? Apakah tindak tanduknya menjunjung tinggi norma-norma yang beradab ataukah berperilaku seenaknya?
Karena bisa jadi seseorang yang mampu berkata dengan sopan dan baik belum tentu jujur. Mungkin ada beberapa maksud dan tujuan lain di dalamnya. Bisa saja mempunyai tutur kata baik tapi tidak ditunjang oleh perilaku yang baik dan sopan pula.
Saya jadi teringat ada temannya teman yang memiliki kemampuan verbal yang bagus, dan saya bertemu dengannya pada saat dia menjelaskan tentang satu bentuk investasi di mana hasil balik yang didapat cukup besar dan modal yang ditanam dijamin aman. Nah untuk maksud-maksud seperti ini jelas sekali dia akan menggunakan tutur kata yang baik karena dia berusaha untuk membuat lawan bicaranya tertarik dengan investasi yang ditawarkan. Saya yang mendengarnya saja merasakan bahwa ucapannya bener-bener empuk. Menggiurkan. Dan membuat orang lain tertarik. Tapi untuk saya yang kebetulan saat itu masih bisa berpikir logis, sedikitpun tidak tergoda oleh empuknya omongan temannya teman itu. Mungkin saking empuknya, saya malah jadi curiga dengan investasinya. Jika hasil yang didapat besar dan dalam waktu singkat, pastilah mengandung resiko yang juga besar. High return high risk.
Kembali ke temannya teman, kemampuan verbal bagus yang dimiliki ini ternyata tidak diimbangi dengan santun tindakannya. Sambil beliau menerangkan tangannya masih juga menjepit rokok, dan kata-kata yang keluarpun seiring dengan asap rokok yang seolah-olah berlomba keluar dari tempat yang gelap dan pengap. Belum lagi abu yang dijentikkan dari rokok tersebut tidak di atas asbak yang telah disediakan, melainkan sembarangan dijentikkan di atas lantai rumah. Duh, yang model kayak gini ini yang langsung bikin ilfil. Rasanya pengen nyecek tuh rokok ke tangannya (Lah kok saya yang malah jadi sadis ya?! Hehehe..)

Untuk urusan nilai-menilai ini saya kembalikan pada individu masing-masing, bagaimana mau menilai seseorang. Saya hanya berusaha untuk mengingatkan saja karena seringkali kita tergelincir akibat menilai seseorang hanya dari penampilannya, hanya dari luarnya saja.

Semoga untuk ke depannya kita bisa jadi lebih berhati-hati untuk tidak terhasut oleh tipu daya fisik dan tidak tergelincir lagi oleh penampilan luar seseorang.

Tetap tampil apa adanya dan jangan ada apanya.

Okeh??

Menantimu..



Dalam nelangsa khayalku..
Ada hadirmu menyapaku..
Aku tersenyum ceria karena engkaupun tersenyum..
Namun sedetik kemudian engkau pergi membawa senyum yang belum sempat kunikmati …
Aku tidak tau kenapa begitu cepat engkau berlalu dan membawa senyum itu pergi..
Aku juga bingung kenapa engkau tebarkan senyum lalu kaupun pergi dengan terlebih dahulu
memaksaku pergi..meninggalkanmu..dengan sepatah dua kata terucap..
Kemana aku akan mencari dirimu dalam remang remang cahaya yang membawa langkahmu..
Kemana aku harus mengadu karena engkau tak meninggalkan jejak…
Haruskah aku berteriak agar alam semesta membantuku mencari langkahmu....????
Mungkin tidak…
Biarkan aku sendiri yang akan tetap mencarimu..
Biarkan aku sendiri yang akan menyalakan lentera untuk menghimpun serpih yang kau sisakan..
Biarkan aku sendiri, dalam dingin yang menusuk tulang ini, yang menyambut datangmu..
Menyambut kembalimu..
Di sore hari..
Di ujung senja mentari tak bersinar lagi..




**pernah diposting di
https://www.facebook.com/#!/notes/oktarini-zaendhi/dia-ngerasa-ga-ya/116925838320914

Kamis, 07 Agustus 2014

Berharapku..


Memendam rindu..
Bergolak dalam kalbu..
Membuncah haru.

Termenungku,
Mengharap bayang jiwamu..
Hadir memeluk ragaku.

 
** saat sebuah pengorbanan tak diakhiri dengan senyum kebahagiaan,
ruang hatipun serasa tertutup, menggelayut kekecewaan.

Rabu, 06 Agustus 2014

Enjoy The Life..



“Because I don’t live in either my past or my future. I’m interested only in the present. If you can concentrate always on the present, you’ll be a happy man. You’ll see that there is life in the desert, that there are stars in the heavens, and that tribesmen fight because they are part of the human race. Life will be a party for you, a grand festival, because life is the moment we’re living right now.”

—The Alchemist

Mudik Itu Asyik... ^^


Yeaayyy.....!!

Bãnŷa
ќ orang, entah sodara, temen, kerabat, sahabat ϑãή bahkan kita sendiri ýάnğ sangat antusias menyambut kegiatan ýά
nğ namanya mudik ini.
Salah satu tradisi p
αϑα saat hari raya ini memang membawa keasyikan tersendiri bagi ýά
nğ mengalaminya.
Apaapun dilakukan agar bisà menjalani mudik, karena akan bertemu
ϑengα
n orangtua, kakak, adek, budhe, pakdhe, om, tante, bahkan calon mertua. *wink*

Harga ticket angkutan ý
άnğ naik hingga hampir 100% pun tîϑαƙ menghalangi niat mereka untuk mudik ke kampung halaman. Entah itu ticket pesawat, ticket bis, ticket kereta, ticket travel, atopun ticket angkutan dalam kota. Semua ϑengαn ikhlas, ϑengαn rela membayar kenaikan tsb, ϑengαn satu tujuan: agar bisà mudik, ρц
lãnĞ ke kampung halaman dan bertemu orangtua.

Mudik identik
ϑengα
n macet.
Yapp, pada masa2 mudik ini jalan-jalan utama lintas propinsi selalu dipadati oleh kendaraan luar kota, terutama dari daerah Jakarta, Bogor, Bandung (wilayah barat) yang mudik dgn arah ke timur (daerah Jateng ato Jatim).
Ribuan volume kendaraan ý
άnğ memadati jalur tersebut membuat keruwetan lalu lintas, terutama bagi pengendara ýάnğ tidak sabar, tidak mematuhi rambu-rambu, dan pengendara ýάnğ mau menang sendiri. Belum lãgî jika ∂ï tengah perjalanan terdapat palang pintu kereta api. Hal ini ýάnğ sering bikin kemacetan terjadi. Apalagi jika di pinggir jalur lintas propinsi tersebut terdapat pasar tumpah. Becak-becak dan orang-orang ýάnğ menyeberang ĵάlä̬ή seenaknya, parkir sembarangan di sekitar pasar akan mengganggu arus kendaraan2 ýά
nğ melintas. Sungguh membuat jalanan semakin macet.

Waktu tempuh ý
άnğ diperlukan untuk bisa tiba di tempat tujuan ternyata sungguh menakjubkan. Ãϑâ saudara saya ýά
nğ memerlukan waktu 30jam, dari Jakarta hingga tiba ∂ï Jogja.
Benar-benar diperlukan kesabaran ekstra saat menjalani mudik bersama macetnya ini. Para pemudik ĵ
чğå harus menyiapkan bekal logistik ýάnğ cukup agar pαϑα saat terjebak dålãм kemacetan tubuh tîϑαƙ kekurangan energi, dan tє̲tep sehat dålãм
perjalanan hingga tiba di tempat tujuan.

Apapun alasannya mudik membawa arti ý
ά
nğ istimewa bagi sebagian besar orang.
Bagaimanapun keadaannya mudik mempunyai seni tersendiri dimana orang-orang tetap rela menjalani aktifitas mudik ini.
 
 

** tulisan ini pernah di posting dalam Facebook
https://www.facebook.com/#!/notes/oktarini-zaendhi/mudik-itu-asyik/510875792259248