Menjadi diri sendiri itu ternyata perlu. Banget!!
Keyakinan ini didapat belum lama. Heeii, ke mana aja nih sampe hal-hal
yang prinsip kayak gini seperti terlupakan dan tidak pernah menggugah hati dan
pikiran..??
Yaaa sebenarnya udah lama banget tau dan ngerti tentang istilah seperti
itu.
“Menjadi diri sendiri”
Hanya saja selama ini mungkin istilah tersebut tidak yang benar-benar diresapi
dalam hati. Ngerti sih, mudenk juga. Tapi ya itu
tadi, belum benar-benar diresapi maknanya.
Satu ketika, mempunyai lingkungan baru, memiliki komunitas baru, adalah
saat-saat yang menyenangkan. Kenal dengan teman-teman baru, yang otomatis punya
wawasan baru yang bisa diambil dari komunitas baru tersebut. Bergaul dengan
berbagai jenis tipe manusia yang beragam. Seru banget. Rasanya sudah yang ingin
berkumpul terus. Baru juga berpisah, belum ada 3 jam, udah yang kangen dan
heboh di grup chattingan. Hebat ya, satu lingkungan baru mampu membuat kita
begitu bahagia dan antusias untuk menjalin dan menjaga silaturahim.
Namun semua itu takkan bisa terlepas dari kontrol diri kita, bagaimana kita
harus bersikap, bertindak, dan memilah-milah seberapa penting dan prioritas
lingkungan baru tersebut terhadap hidup kita pribadi. Jangan sampai kita yang
baru juga mempunyai lingkungan baru kemudian melupakan yang lama, atau bahkan
mengorbankan kepentingan keluarga. Kita tetap harus bisa untuk mawas diri dan
mempunyai pembawaan yang baik, terhadap lingkungan baru, lingkungan lama, atau
pun keluarga. Memposisikan diri dengan baik, agar eksistensi kita tetap ’dibutuhkan’
oleh masing-masing lingkungan.
Dalam lingkungan baru, pasti ada satu dan beberapa orang yang ’menonjol’. Bukan
hanya physically lho, tapi juga
secara omongan, secara sikap, dan penentuan tentang suatu keputusan. Berpakaian
dan memakai asesoris yang paling heboh di antara lainnya. Belum lagi secara
literal. Pembicaraan apa pun selalu mendominasi. Entah dia ngerti bener tentang
satu hal atau tidak, dia pede aja
omong sana sini. Salah pun dia tetap dengan pede-nya beralasan.
Dan diakui ato tidak, orang semacam ini selalu ada dan hadir di tengah-tengah
kita. Entah yang diomongkan itu berguna atau tidak, berbobot atau tidak, sopan
atau tidak, dia dengan tegak bicara di depan teman-temannya. Apa yang
dibicarakan bisa dengan enteng keluar dari bibir, dan si pembicara tidak
mempertimbangkan apakah kata-kata dan sikap yang ditunjukkan itu baik atau
tidak, menyakiti atau tidak. Enak kali ya jadi orang yang berdemikian, yang
tidak mikirin sesuatu terlalu berat.
Dan satu waktu, saya pun mencoba untuk menjadi ’pribadi yang demikian’. Berbicara
sesuka hati, tidak memikirkan jauh ke depan, tidak terlalu menganggap berat apa
yang akan diperbuat, apa yang akan diucapkan. Apa yang ada dalam kepala
langsung diungkapkan. Berpakaian dengan model dan gaya orang-orang lain yang
kekinian, rajin perawatan badan, bentar-bentar pertemuan, ke sana ke sini
makan-makan, dan segala hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Tapi tiba-tiba
ada yang aneh, yang tumbuh dalam diri. Seperti tidak mengenal sosok yang
berperilaku demikian. Jangankan keluarga, teman-teman selingkungan yang
diharapkan akan semakin manis dan dekat dengan diri ini, malah seperti ’menjauh’.
Mereka sering memperlihatkan pandangan yang mencemooh, walaupun tidak
terkatakan, tapi tetap tampak dan terlihat.
Ya Allah,…
Ternyata dugaan yang muncul salah besar. Saat mencoba untuk ’meniru’ dan
bersikap seperti teman yang ’menonjol’
dalam satu komunitas, ternyata tanggapan jauh sekali dari harapan. Bahkan ada
satu teman dekat yang dengan jujur bercerita bahwa sosok yang ada sekarang ini
bukanlah sosok yang mereka kenal sebelumnya. Dan bahwa mereka kangen dengan
sosok saya sebelumnya. Oalaahh Gusti, ternyata keliru juga apa yang menjadi
anggapan selama ini. Ternyata istilah ’Jadilah diri sendiri’ itu memang
benar-benar ada, dan teraplikasikan dalam kenyataan hidup ini. Memang ya, kalo
sudah mengalami baru juga ketauan buktinya.. hehehe…
So..??
Jadilah diri sendiri. Apaa pun itu.
Karena diri kita yang apa adanya inilah yang menjadi ciri khas bagi kita, dan
menjadi sosok yang memang telah dikenal oleh teman-teman dan keluarga di
sekitar kita.
Tidak perlu iri, tidak perlu dengki, atau
pun sakit hati dengan orang lain. Kita diciptakan berbeda-beda. Bahkan anak
kembar identik pun pasti akan ada bedanya. Dan itulah uniknya kita. Yang membedakan
diri kita dengan yang lain. Tentu saja dari sisi yang positif.
Be Yourself.
Always!