Senin, 23 Juni 2014

Hujan bulan Juni



Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada  pohon berbunga itu,

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya  yang ragu-ragu di jalan itu,

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

-sapardi djoko damono-

Kamis, 19 Juni 2014

Akhirnya hujan turun juga…


 

Setelah berminggu-minggu hawa panas terasa memayungi bumi, akhirnya siang ini turun hujan yang sangat deras.
Setelah panas terik di siang-siang yang lalu menyiksa kepala dengan kepeningan dan cenut-cenutnya, akhirnya rintik yang dirindukan inipun jatuh membasahi tanah.
Sejuk terasa..
Damai di jiwa..

Melihat ribuan rinai yang saling berebut untuk sampai ke tanah terasa menyenangkan. Dari kepulauan awan di atas sana mereka berkumpul dan akhirnya mereka mendapatkan ijin untuk segera turun dan menyampaikan pesan yang telah dititipkan oleh Sang Raja dan ditujukan kepadaku dan penduduk tercinta lainnya di muka bumi ini.
Pesan untukku sungguh jelas.
Rinai menyampaikan pesan damai untuk hati ini yang sebenarnya sedang galau. Rinai ini membawakan ketenangan dan keikhlasan yang mampu menghalau kecemasan. Rinai yang juga mampu menjernihkan pikiranku yang sedang kacau.

Mendapat pesan yang sangat berharga ini, membuat hati terasa membuncah. Dan satu yang pasti kulakukan saat mendapat pesan ini : bersyukur.
Bersyukur masih bisa merasakan dinginnya udara di tengah-tengah musim kemarau yang sudah beberapa bulan ini kualami.

Bersyukur, akhirnya bisa mencium apuh, aroma tanah basah yang seringkali kurindukan.
Bersyukur, akhirnya hujan mampu membuat debu-debu kering yang beterbangan di jalanan diam tak bergerak.

Bersyukur, aku tidak perlu mengeluhkan lagi AC kantor yang mendadak seperti tidak berfungsi karena suasanapun langsung berubah menjadi adem.

Hmm, nikmat hujan mana lagi akan dipungkiri?