..dalam kesejukan rinai hujan di hijaunya pegunungan, renungan, kenangan, impian, khayalan. dan perasaan hadir menggelitik dalam goresan bait-bait aksara dalam jeda dan spasi...
Jumat, 25 April 2014
Dering itu...
Takjub.
Ini yang kurasakan hari ini.
Di saat kemarin pikiranku penuh dengan semua prasangka dan perkiraan yang melayang-layang mengembara entah kemana, ternyata di hari ini semua dugaan terjawab sudah.
Ya, kemarin yang datang hanya 'ping' dan sepotong-sepotong tanya tanpa cerita.
Walaupun aku sudah menjawabnya dengan luas alias panjang kali lebar, namun tak berbalas.
Aku pikir sekelumit kalimat itu hanya sebagai 'kilasan respon' tentang mimpi kemarin.
Dering itu..
Yess, dering itu cukup mengagetkan.
Mengagetkan karena ternyata dari 'ping' berbuah dering.
Awal percakapan yang terkesan malu-malu lama-lama berjalan dengan seru dan mengasyikkan. Hampir juga lupa waktu makan. cerita-cerita yang mengalir cukup menyenangkan.
Mendengar suaranya cukup menghangatkan jiwa.
Cukup menentramkan hati yang beberapa waktu sempat gelisah.
Lumayan bisa mengobat kangen. #upss
Hmm...
Tak henti-hentinya aku takjub dengan kuasaMu yaa Rabb..
Dengan bermacam cara Engkau memberikan pertanda.
Sama seperti halnya pertanda alam, berarak awan kelam di langit yang sebentar lagi akan menghantarkan hujan dengan kesejukannya ke muka bumi.
** ..dan hanya berani mengasumsikan sendiri bahwa
mimpi yang hadir beriringan dengan ping dan dering itu
adalah kamu yang sedang rinduku..
Selasa, 22 April 2014
Setelah 3 tahun..
...dan ketika semalam engkau hadir dlm mimpiku..
Akupun tak ingin tergugah.
Aku tak ingin mimpi itu berlalu..
Aku berharap dalam batin jiwaku,
Aku dan kamu kembali bersama.
Ya.
Bersama.
Melewatkan waktu...
Bercerita banyak hal..
Makan bersama..
Menapaki jalanan di teriknya siang,
entah kmana tujuan sebenarnya..
Berdua mengerjakan hal-hal seru..
Walo kadang engkau tidak suka dengan hasilku.
Tapi..
Aku suka.
Aku bahagia.
Mungkin dengan begitu kamu ingin aku sempurna.
Mungkin itu caramu membuatku bisa.
Membuatku menjadi lebih baik.
Mungkin kamu ingin aku menjadi tegar.
Dan aku menikmati itu semua.
Aku bermimpi.
Kembali berjalan bersamamu.
Berbagi canda, berbagi tawa.
Dan aku tak bosan menatap wajahmu.
Merasakan hangat tatapanmu.
Menikmati senyummu yang malu-malu.
Adakah rindu di hatimu untukku?
Masikah engkau bisa rasakan inginku?
Mungkin, 'ping' yang terkirim darimu barusan,
yang mampu menjawab tanya yang hadir ketika kelopak mata ini membuka,
terbangun dr mimpi.
Mimpi tentang kamu.
** 21042014
Rabu, 16 April 2014
Doa Untuk Bapak..
Hari ini.. ijinkan aku memohon kepadaMu yaa
Allah..
Kutangkup tangan ini dan berucap lirih padaMu..
Kutangkup tangan ini dan berucap lirih padaMu..
Yaa Allah..
Yaa Rohman..
Yaa Rohiim..
Yaa Sallam..
Yaa Baari’..
Yaa Rohman..
Yaa Rohiim..
Yaa Sallam..
Yaa Baari’..
Teruntukmu Bapakku yang sedang sakit..
Teruntuk Bapakku yang hari ini berulangtahun..
Teruntuk Bapakku yang hari ini berulangtahun..
Jika Engkau yaa Allah, berkenan mengangkat
penyakitnya, berilah kesembuhan pada Bapakku..
Jika Engkau berkenan yaa Allah, berilah kekuatan pada Bapakku untuk berjuang melawan sakitnya..
Limpahkanlah kesehatan sebagaimana sebelumnya, sehingga kami dapat berkumpul bahagia dan bersama kembali dalam keceriaan..
Jika Engkau berkenan yaa Allah, berilah kekuatan pada Bapakku untuk berjuang melawan sakitnya..
Limpahkanlah kesehatan sebagaimana sebelumnya, sehingga kami dapat berkumpul bahagia dan bersama kembali dalam keceriaan..
Namun, jika Engkau berkenan, jadikanlah
penyakitnya sebagai penghapus dosa-dosanya di masa lalu yaa Allah..
Hilangkanlah segala sakitnya, ringankanlah penderitaannya, dan gantikanlah dengan keinginan untuk selalu berdzikir menyebut namaMu, yaa Allah..
Jadikan bibir dan lidahnya basah menyebut asmaMu..
Jadikan hati dan benaknya untuk selalu sadar dalam mengingatMu..
Berikan kesempatan baginya untuk selalu mengucap syahadat di sepanjang akhir hidupnya, yaa Allah…
Hilangkanlah segala sakitnya, ringankanlah penderitaannya, dan gantikanlah dengan keinginan untuk selalu berdzikir menyebut namaMu, yaa Allah..
Jadikan bibir dan lidahnya basah menyebut asmaMu..
Jadikan hati dan benaknya untuk selalu sadar dalam mengingatMu..
Berikan kesempatan baginya untuk selalu mengucap syahadat di sepanjang akhir hidupnya, yaa Allah…
Yaa Allah.. Yaa Baari’.. Yaa Sallam..
”Allahumma rabbanaasi adz-hibil ba’sa isy-fi
antasy-syaafii laa syifa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughaa diru sagaman..”
Yaa Allah , Rabb yang memelihara segenap
manusia, hilangkanlah segala penyakit, dan sembuhkanlah, karena hanya Engkau
penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhanMu, kesembuhan yang tidak
akan dihinggapi penyakit lain. (HR. Bukhari dan Muslim)
** 16 April 2014
Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT..
Selalu berlimpah berkah&anugerahNya..
dalam kasihsayangNya..
Aku selalu sayang Bapak..
Jumat, 11 April 2014
Stuck.
Hmm..
Rasanya ingin sekali blog ini segera berisi banyak
tulisan. Tulisan yang entah menggambarkan jiwa yang terluka, hati yang berduka,
ato raga yang bergelora.
Tapi jika ingin itu hanya sekedar keinginan tanpa adanya tindakan,
kayaknya juga ga bakal terwujud blog ini banyak isinya.
Sebenarnya banyak ragam topik, banyak kata-kata dan
sekian inspirasi serta ide yang berloncatan di kepala berantrian pengen keluar
berlomba-lomba diwujudkan dalam tulisan. Entah kenapa ketika badan sudah tegak
di depan komputer atopun sudah siap cetak cetik di gadget, saya kok malah jadi
bengong.
Bingung.
semua yang udah ngumpul di kepala mendadak beku. Tersumbat. Harus mulai dari mana, apa yang harus diketik, semuanya tersumbat. Udah rapi mengalir tiba-tiba terhalang. Mentok.
Yang seperti ini nih yang sering bikin niatan untuk nulis jadi menghilang. Jadi males, hehehe… Udah bulat tekad duduk manis di depan layar tiba2 kok ya stuck begitu aja.
semua yang udah ngumpul di kepala mendadak beku. Tersumbat. Harus mulai dari mana, apa yang harus diketik, semuanya tersumbat. Udah rapi mengalir tiba-tiba terhalang. Mentok.
Yang seperti ini nih yang sering bikin niatan untuk nulis jadi menghilang. Jadi males, hehehe… Udah bulat tekad duduk manis di depan layar tiba2 kok ya stuck begitu aja.
Mungkin saya butuh refreshing ya.. Butuh suasana lain
yang lebih segar yang bisa membangkitkan mood saya untuk lancar jaya menulis
apa yang ada di kepala.
Ya sudahlah, saya rehat dulu. Mau cari suasana segar agar
mood itu kembali hadir untuk bisa menggulirkan kembali apa yang sudah
berloncatan dalam otak dan benak saya ke dalam tulisan yang semoga saja bisa
menghibur.
Yuukk...^^
Kamis, 10 April 2014
Manner ooh.. Manner
Saya dibesarkan bukan oleh kedua orangtua kandung saya
tetapi oleh kakek nenek dari bapak. Sejak kecil, sejak umur 6bulan, saya sudah
dididik, diasuh, dan dibesarkan dalam lingkungan yang lumayan ketat dalam hal
sopan santun.
Bertemu orangtua dan orang yang lebih tua harus memberi
salam, memberi senyum terbaik, ramah, dan berkata dengan tutur kata yang halus.
Duduk dengan rapi adalah salah satu cara menghormati beliau yang sudah tua
tersebut. Semua tindak tanduk dalam kehidupan sehari-hari harus mencerminkan
kesopanan. Doktrin dari kakek nenek saya ini bertujuan agar saya tidak menodai nama beliau dan merusak kehormatan keluarga.
Mereka mencontohkan apabila saya berperilaku buruk dan tidak sopan, pastilah orang-orang, terutama tetangga, akan mengaitkan langsung dengan orang yang telah mengasuh saya.
Dan sayapun tidak berkeinginan juga untuk menodai nama kedua kakek nenek saya tersebut. Saya cukup menghormati beliau. Dan saya cukup berterimakasih telah diberi pendidikan kesopanan yang baik, yang hingga saat ini menjadi pegangan saya dalam mendidik anak-anak saya sendiri.
Mereka mencontohkan apabila saya berperilaku buruk dan tidak sopan, pastilah orang-orang, terutama tetangga, akan mengaitkan langsung dengan orang yang telah mengasuh saya.
Dan sayapun tidak berkeinginan juga untuk menodai nama kedua kakek nenek saya tersebut. Saya cukup menghormati beliau. Dan saya cukup berterimakasih telah diberi pendidikan kesopanan yang baik, yang hingga saat ini menjadi pegangan saya dalam mendidik anak-anak saya sendiri.
Ya. Melihat perkembangan anak2 masa sekarang, sebenarnya
saya cukup prihatin. Bukan mentang-mentang saya sudah punya bekal pendidikan
kesopanan yang cukup, akan tetapi saya merasa bahwa orangtua pada masa sekarang
ini kurang aware dengan masalah kesopanan. Banyak orang-orang yang berperilaku
seenak udelnya sendiri tanpa menyadari lingkungan sekitarnya.
Ada beberapa hal tentang tata kesopanan ini yang membuat
saya tergelitik untuk menuangkannya dalam tulisan. Terutama beberapa pengalaman
melihat tingkah laku orang-orang di tempat umum.
Misalnya aja pas kita udah rapi antri di kasir, tiba2 datang seorang emak-emak dengan dandanan perlente yang sok penting nerobos antrian. Haduh mak, kita nih udah ikhlas dan sabar antri di kasir, situ seenaknya sendiri nerobos bergaya sok penting dan keburu2. Kalo ga inget malu, pengen rasanya negor si emak itu abis2an. Jangan mentang2 situ perlente dan terlihat kaya trus seenaknya sendiri sama orang lain di sekitar. Sepet ga sih ama orang begituan..?! Jadi ga ikhlas deh ngantrinya. (doh, masi kebawa emosi juga nih pas nulisnya)
Misalnya aja pas kita udah rapi antri di kasir, tiba2 datang seorang emak-emak dengan dandanan perlente yang sok penting nerobos antrian. Haduh mak, kita nih udah ikhlas dan sabar antri di kasir, situ seenaknya sendiri nerobos bergaya sok penting dan keburu2. Kalo ga inget malu, pengen rasanya negor si emak itu abis2an. Jangan mentang2 situ perlente dan terlihat kaya trus seenaknya sendiri sama orang lain di sekitar. Sepet ga sih ama orang begituan..?! Jadi ga ikhlas deh ngantrinya. (doh, masi kebawa emosi juga nih pas nulisnya)
Pernah sekali waktu saya berbelanja di supermarket besar
yang menyediakan tidak hanya kebutuhan sehari-hari tetapi juga perabotan rumah
tangga, seperti televisi, kulkas, sofa, meja makan, almari, dsb. Nah pada saat
saya melewati bagian sofa-sofa yang empuk, saya melihat melihat seorang anak
yang super aktif, duduk di sofa yang dipajang dalam supermarket tersebut. Mending
kalo duduknya rapi. Ini model duduk yang bikin orang lain yg melihatnya
langsung berucap, ”Heh!”
Duduk dengan kaki ngangkang dan satu kaki nangkring di sofa sebelahnya. Tidak tahan duduk anteng, nih anak mulai berdiri dan lonjak-lonjak, masih di sofa itu. Dan ternyata tidak hanya duduk dan lonjak, dia mulai bergerilya keliling dengan melompati satu sofa ke sofa lainnya. Aduduh, mana tuh kaki juga ga bersih. Ngeliatnya risiih banget. Dan yang membuat saya makin terhenyak adalah bapaknya duduk tidak jauh dari sofa itu dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan anaknya. Ternyata oh ternyata si bapak ini lagi sibuk banget sama gadgetnya, dimana mata tidak lepas dari layarnya. Saking sibuknya sampe dia gatau apa yang udah dilakukan anaknya di sofa2 itu.
Ya ampun, ada ya ortu model kek gitu di bumi ini. Saya dan suami yang kebetulan lewat aja berasa geregetan dengan tingkah si anak yang kayaknya kok ga pernah dapat pendidikan sopan santun. Yaahh paling endak si bapaknya ini negur kek anaknya untuk tidak berlaku demikian ato langsung ngajak si anak pergi dari sofa itu daripada malah bikin sofa jadi kotor dan rusak.
Duduk dengan kaki ngangkang dan satu kaki nangkring di sofa sebelahnya. Tidak tahan duduk anteng, nih anak mulai berdiri dan lonjak-lonjak, masih di sofa itu. Dan ternyata tidak hanya duduk dan lonjak, dia mulai bergerilya keliling dengan melompati satu sofa ke sofa lainnya. Aduduh, mana tuh kaki juga ga bersih. Ngeliatnya risiih banget. Dan yang membuat saya makin terhenyak adalah bapaknya duduk tidak jauh dari sofa itu dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan anaknya. Ternyata oh ternyata si bapak ini lagi sibuk banget sama gadgetnya, dimana mata tidak lepas dari layarnya. Saking sibuknya sampe dia gatau apa yang udah dilakukan anaknya di sofa2 itu.
Ya ampun, ada ya ortu model kek gitu di bumi ini. Saya dan suami yang kebetulan lewat aja berasa geregetan dengan tingkah si anak yang kayaknya kok ga pernah dapat pendidikan sopan santun. Yaahh paling endak si bapaknya ini negur kek anaknya untuk tidak berlaku demikian ato langsung ngajak si anak pergi dari sofa itu daripada malah bikin sofa jadi kotor dan rusak.
Mungkin yang menjadi pemikiran saya ini bisa jadi
dianggap ga uptodate ato ketinggalan jaman. Hanya saja menurut saya pribadi, di
jaman teknologi gadget yang udah canggih ini, memberikan pendidikan sopan
santun kepada anak-anak itu tetep wajib hukumnya. Mana ada sih orangtua yang
tidak bangga jika anak-anaknya berlaku sopan santun dimanapun berada?
Langganan:
Postingan (Atom)