Saya dibesarkan bukan oleh kedua orangtua kandung saya
tetapi oleh kakek nenek dari bapak. Sejak kecil, sejak umur 6bulan, saya sudah
dididik, diasuh, dan dibesarkan dalam lingkungan yang lumayan ketat dalam hal
sopan santun.
Bertemu orangtua dan orang yang lebih tua harus memberi
salam, memberi senyum terbaik, ramah, dan berkata dengan tutur kata yang halus.
Duduk dengan rapi adalah salah satu cara menghormati beliau yang sudah tua
tersebut. Semua tindak tanduk dalam kehidupan sehari-hari harus mencerminkan
kesopanan. Doktrin dari kakek nenek saya ini bertujuan agar saya tidak menodai nama beliau dan merusak kehormatan keluarga.
Mereka mencontohkan apabila saya berperilaku buruk dan tidak sopan, pastilah orang-orang, terutama tetangga, akan mengaitkan langsung dengan orang yang telah mengasuh saya.
Dan sayapun tidak berkeinginan juga untuk menodai nama kedua kakek nenek saya tersebut. Saya cukup menghormati beliau. Dan saya cukup berterimakasih telah diberi pendidikan kesopanan yang baik, yang hingga saat ini menjadi pegangan saya dalam mendidik anak-anak saya sendiri.
Mereka mencontohkan apabila saya berperilaku buruk dan tidak sopan, pastilah orang-orang, terutama tetangga, akan mengaitkan langsung dengan orang yang telah mengasuh saya.
Dan sayapun tidak berkeinginan juga untuk menodai nama kedua kakek nenek saya tersebut. Saya cukup menghormati beliau. Dan saya cukup berterimakasih telah diberi pendidikan kesopanan yang baik, yang hingga saat ini menjadi pegangan saya dalam mendidik anak-anak saya sendiri.
Ya. Melihat perkembangan anak2 masa sekarang, sebenarnya
saya cukup prihatin. Bukan mentang-mentang saya sudah punya bekal pendidikan
kesopanan yang cukup, akan tetapi saya merasa bahwa orangtua pada masa sekarang
ini kurang aware dengan masalah kesopanan. Banyak orang-orang yang berperilaku
seenak udelnya sendiri tanpa menyadari lingkungan sekitarnya.
Ada beberapa hal tentang tata kesopanan ini yang membuat
saya tergelitik untuk menuangkannya dalam tulisan. Terutama beberapa pengalaman
melihat tingkah laku orang-orang di tempat umum.
Misalnya aja pas kita udah rapi antri di kasir, tiba2 datang seorang emak-emak dengan dandanan perlente yang sok penting nerobos antrian. Haduh mak, kita nih udah ikhlas dan sabar antri di kasir, situ seenaknya sendiri nerobos bergaya sok penting dan keburu2. Kalo ga inget malu, pengen rasanya negor si emak itu abis2an. Jangan mentang2 situ perlente dan terlihat kaya trus seenaknya sendiri sama orang lain di sekitar. Sepet ga sih ama orang begituan..?! Jadi ga ikhlas deh ngantrinya. (doh, masi kebawa emosi juga nih pas nulisnya)
Misalnya aja pas kita udah rapi antri di kasir, tiba2 datang seorang emak-emak dengan dandanan perlente yang sok penting nerobos antrian. Haduh mak, kita nih udah ikhlas dan sabar antri di kasir, situ seenaknya sendiri nerobos bergaya sok penting dan keburu2. Kalo ga inget malu, pengen rasanya negor si emak itu abis2an. Jangan mentang2 situ perlente dan terlihat kaya trus seenaknya sendiri sama orang lain di sekitar. Sepet ga sih ama orang begituan..?! Jadi ga ikhlas deh ngantrinya. (doh, masi kebawa emosi juga nih pas nulisnya)
Pernah sekali waktu saya berbelanja di supermarket besar
yang menyediakan tidak hanya kebutuhan sehari-hari tetapi juga perabotan rumah
tangga, seperti televisi, kulkas, sofa, meja makan, almari, dsb. Nah pada saat
saya melewati bagian sofa-sofa yang empuk, saya melihat melihat seorang anak
yang super aktif, duduk di sofa yang dipajang dalam supermarket tersebut. Mending
kalo duduknya rapi. Ini model duduk yang bikin orang lain yg melihatnya
langsung berucap, ”Heh!”
Duduk dengan kaki ngangkang dan satu kaki nangkring di sofa sebelahnya. Tidak tahan duduk anteng, nih anak mulai berdiri dan lonjak-lonjak, masih di sofa itu. Dan ternyata tidak hanya duduk dan lonjak, dia mulai bergerilya keliling dengan melompati satu sofa ke sofa lainnya. Aduduh, mana tuh kaki juga ga bersih. Ngeliatnya risiih banget. Dan yang membuat saya makin terhenyak adalah bapaknya duduk tidak jauh dari sofa itu dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan anaknya. Ternyata oh ternyata si bapak ini lagi sibuk banget sama gadgetnya, dimana mata tidak lepas dari layarnya. Saking sibuknya sampe dia gatau apa yang udah dilakukan anaknya di sofa2 itu.
Ya ampun, ada ya ortu model kek gitu di bumi ini. Saya dan suami yang kebetulan lewat aja berasa geregetan dengan tingkah si anak yang kayaknya kok ga pernah dapat pendidikan sopan santun. Yaahh paling endak si bapaknya ini negur kek anaknya untuk tidak berlaku demikian ato langsung ngajak si anak pergi dari sofa itu daripada malah bikin sofa jadi kotor dan rusak.
Duduk dengan kaki ngangkang dan satu kaki nangkring di sofa sebelahnya. Tidak tahan duduk anteng, nih anak mulai berdiri dan lonjak-lonjak, masih di sofa itu. Dan ternyata tidak hanya duduk dan lonjak, dia mulai bergerilya keliling dengan melompati satu sofa ke sofa lainnya. Aduduh, mana tuh kaki juga ga bersih. Ngeliatnya risiih banget. Dan yang membuat saya makin terhenyak adalah bapaknya duduk tidak jauh dari sofa itu dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan anaknya. Ternyata oh ternyata si bapak ini lagi sibuk banget sama gadgetnya, dimana mata tidak lepas dari layarnya. Saking sibuknya sampe dia gatau apa yang udah dilakukan anaknya di sofa2 itu.
Ya ampun, ada ya ortu model kek gitu di bumi ini. Saya dan suami yang kebetulan lewat aja berasa geregetan dengan tingkah si anak yang kayaknya kok ga pernah dapat pendidikan sopan santun. Yaahh paling endak si bapaknya ini negur kek anaknya untuk tidak berlaku demikian ato langsung ngajak si anak pergi dari sofa itu daripada malah bikin sofa jadi kotor dan rusak.
Mungkin yang menjadi pemikiran saya ini bisa jadi
dianggap ga uptodate ato ketinggalan jaman. Hanya saja menurut saya pribadi, di
jaman teknologi gadget yang udah canggih ini, memberikan pendidikan sopan
santun kepada anak-anak itu tetep wajib hukumnya. Mana ada sih orangtua yang
tidak bangga jika anak-anaknya berlaku sopan santun dimanapun berada?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar