Selasa, 30 September 2014

Melibatkan Perasaan



 
 

Pertemuan bisa saja lahir karena kebetulan..
Perjumpaan mungkin saja terjadi karena ketidaksengajaan..


Jika pertemuan dan perjumpaan ini
melibatkan perasaan,
sudah tentu perpisahan akan menjadi
urusan panjang dan menyesakkan.




Senin, 29 September 2014

Rujak Oh.. Rujak..


Sebenernya udah lamaaa banget saya tuh pengen maem rujak.
Udah berhari-hari, berminggu-minggu kok ya abang rujaknya ga lewat-lewat. Lupa banget waktu terakhir beli itu untuk minta no hp-nya. Jadinya ya begini nih, merana sepanjang hari..sepanjang minggu..sepanjang bulan. Hidup terasa tak bergairah, lemah, gundah, apa-apa serba salah, dan hanya bisa menelan ludah. (lebay!)


Di Jogja sini, sejak saya masih anak-anak, yang kecil, imut, nggemesin, dan pengen nyubitin yang namanya rujak dan lotis itu berbeda. Penjualnya sama hanya saja rujak dan lotis itu tersaji dengan versi yang berbeda. Kalo rujak, buah dan bumbunya dicampur. Buahnya bukan irisan, tapi diserut dengan alat yang hasil serutannya berupa irisan buah yang sangaaat tipiiiiiiiiiiiiiis. Ada alat tersendiri yang umumnya terbuat dari kayu dan pisau pemotongnya. Bumbu dan irisan buah yang sangat tipis ini diaduk-aduk, dan voila..jadilah rujak.

Kalo lotis, buah dan bumbu gulanya disajikan terpisah. Buahnya pun dipotong besar-besar (sakmplok
an) dan dimakannya dengan cara dicocol atau dicolek ke bumbunya.
Dan sekarang ini yang saya inginkan adalah rujak, sodara-sodara.. dengan cabe rawit merahnya 3-4, trus dibanyakin serutan bengkuang dan pepaya setengah matang yang tipis-tipis. *cleguk*

Ngebayangin rujak aja rasanya udah sampe ngeces-ngeces gini (hiiyy..) Gatau nih, kenapa kok pengen banget maem rujak. Padahal bukan karena lagi ngidam lho. Secara saya udah tutup buku, cukup 2 anak saja, seperti slogan Pemerintah. Oiya, tentang rujak ini, kenapa kalo pas ada wanita yang pengen banget maem rujak selalu dikaitkan dengan ngidam ya? Apa karena orang ngidam itu selalu pengen yang asem-asem dan pedes-pedes gitu ya..
Padahal yang lagi ngidam pun juga ada lho yang ga kepengen makan rujak. Bisa jadi ngidam es teler, roti buaya, piknik ke Bali, naik pesawat, pengen shopping terus, ato pengen BMW. (ngelantur!)
Mungkin ngidam dan rujak udah menjadi pasangan yang serasi. Jadi dimanapun orang cari rujak sudah selalu dengan pertanyaan ngidam, hehehe..

Kamis, 18 September 2014

Pinter Tapi....



Suatu malam, sepulang dari kerja dan sudah bebersih badan yang mewangi sepanjang hari seperti melati putih bersih dan suci, saya pun berkumpul bersama keluarga kecil yang sangat saya cintai ini untuk makan malam bersama.
Tidak seperti bulan-bulan yang lalu, Adek yang biasanya kalo makan terlalu lahap, minggu-minggu belakangan ini agak susah makan. Terlalu lahap itu adalah saat disuapin satu sendok, Adek udah minta tambahan satu sendok nasi lagi. Jadi sekali suap harus 2 sendok. Buat mamanya udah biasa nyuapin seperti ini. Tapi giliran papanya yang suapin, Adek akan komplain, ”nasinya kurang” Jika di sendok kedua papa hanya menambahkan seujung nasi, pasti Adek akan kembali minta sesendok penuh nasi. Haduh, awalnya saya khawatir karena terlalu penuh mulutnya nantinya berpotensi tersedak dan seret. Ternyata buat Adek itu malah keadaan di mana dia nyaman makannya. Ya sudah, saya turuti apa yang menjadi nyamannya Adek
J (bonus ginuk-ginuk yg asyik buat diuyel2)

Nah saat minggu-minggu ini menjadi susah makan, ternyata karena Adek keasyikan bermain dan kekenyangan minum. Segala macam menu dari yang manis gurih asin merah kuning hijau biru meletus balon hijau dan trik-trik serta jurus-jurus ilmu persilatan dari perguruan di pedalaman gunung batu untuk menarik perhatiannya udah dilakukan. Tapi tetep aja nafsu makannya jauh berkurang. Hikss..jadi sedih nih.. Udah ga itu asyik lagi untuk diuyel-uyel (Ada dink, papanya.. #eh :p)

Malam itu pas kami sedang membujuk untuk makan, Adek cerita kalo di sekolah udah makan.

Adek         :  Tadi adek makan di sekolah lho pa.. (hari itu tidak ada jadwal taman gizi di sekolah)

Papa        :  Lho Adek makan apa, kan tadi ke sekolah ga bekel makan?

Adek        : Adek makan bekelnya Zakki, 6 sendok.

(mengingat satu suapannya Adek pasti besar, kami jadi bertanya-tanya, sebanyak apa bekalnya Zakki itu.)

Mama      : Trus Zakki tetep kebagian kan?

Adek        : Kebagian kok tapi cuma dikit..

Papa        : Tuh temennya Adek pinter kan. Punya sesuatu mau untuk berbagi walau hanya kebagian dikit..

Mama      : Iya tuh, pinter banget Zakki ya Dek..

Adek        : Pinter tapi nakal, Ma.. Adek pernah dipukul dan didorong..

Papa&Mama : #%$#@*%^&*........... (Lihat-lihatan bingung mau komentar apa)


Oopss, ternyata anak-anak kritis juga ya.. Tiwas kami memuji temennya baik dan pinter, eeh Adek bisa ngeles juga dengan cara nyeritain kelemahan temennya itu.
Ternyata menjadi orangtua tidak semudah dalam bayangan dan impian ya.. JJJ

Jumat, 12 September 2014

Sebuah Masa Lalu..

 
 




Kembali terik panas sore ini membuatku merenung.
Angin yang berhembus, meniupkan tarian indah pada pucuk daun cemara.
Menghembuskan anganku pada saat itu..
Saat kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda.

Semestinya, pada perjumpaan itu, aku tidak mengikutsertakan rasa.
Semestinya, pada sua ke sekian kali itu, hati tidak ikut bicara.
Dan sentuhan hangat pada waktu itu hanya kebetulan semata. Tidak serta merta karena ingin bersisian tapi karena canda tawa dan senda gurau semata.

Kupikir kedekatan kita hanya karena saat itu kita sering bersama dalam sedikit masa. Hanya sesaat masa.
Dan tidak akan terusik karenanya.
Namun ternyata aku salah menduga. Aku hanya perempuan biasa. Perempuan keturunan Hawa. Yang mungkin tidak luput dari salah dan goda.

Ya, tetiba saja aku merasakan ada yang berbeda. Ingin selalu berbincang dengannya. Juga tertawa bersama. Walau kadang diam seribu bahasa, walau masing-masing sering sibuk dengan gadgetnya, itu tak mengapa. Yang penting kita bersama. Dalam satu ruang dan satu dimensi. Tak berjarak lagi.

…waktu itu. Sebuah masa lalu.


Kamis, 11 September 2014

Fer To The Ra To The Ri..



Sudah sekitar semingguan ini benak saya dibuat bertanya-tanya dan takjub plus aneh aja melihat sebuah benda yang teronggok, terparkir manis dan cukup menyolok mata di pintu masuk perumahan saya. Sebagai gambaran, pintu masuk perumahan saya itu ada di tengah-tengah area persawahan. Kanan kiri depan belakang perumahan saya ini memang sawah. Maklum jika akhirnya banyak yang menjuluki perumahan kami ini sebuah perumahan mewah, mepet sawah. Hehehe… terdengar cukup keren kan..

Namun pertanyaan, ketakjuban, dan keanehan yang saya rasakan itu juga tak kunjung mendapat jawaban dan penjelasan yang memuaskan saat saya ceritakan pada kekasih hati saya di rumah. Bahkan jawaban yang diberikan kekasih hati malah mengambang dan tak juga membuat saya tenang. Katanya benda itu kemungkinan milik warga yang tinggal di pojokan, yang selama beberapa bulan terakhir ini terlihat menggunakan dan memiliki mobil yang berbeda-beda dan termasuk dalam mobil-mobil yang tidak biasa.

Rasanya aneh aja di tengah-tengah keluguan lingkungan sekitar kami tiba-tiba teronggok sebuah Ferrari. Ya, FER-RA-RI. Warna merah menyalanya sungguh membuat mata langsung melihat dan susah untuk mengalihkan pandangan mata. Mau ga mau pasti melihat. Yaah, gimana ga akan melihat coba jika keluar masuk perumahan kita harus melewatinya. Tapi kalo kita terus-terusan memandangi, bisa-bisa kita nabrak portal perumahan deh, hehehe…

Dan akhirnya seminggu kemudian saya dapat info dari kekasih hati bahwa Ferrari itu kepunyaan petani pemilik sawah yang rumahnya terletak di sebelah utara perumahan kami. Karena jalan menuju rumahnya hanya cukup dilewati sepeda motor, jadilah Ferrari merah menyala tersebut di parkir di dekat jalan masuk perumahan.

Waahh.. hebat bener ya, seorang petani di lingkungan yang masih lugu seperti ini mampu memiliki sebuah kendaraan mewah, Ferrari.

Saya langsung berpikir, pasti mereka adalah petani yang ulet, yang menabung sedikit demi sedikit untuk bisa mewujudkan impiannya, memiliki sebuah mobil mewah Ferrari. Mereka bekerja tak kenal lelah, saat panas terik tak henti membajak sawah. Bangun subuh langsung turun sawah menyemai benih tak peduli peluh di tubuh. Menjaga helai demi helai daun dan bulir padi hingga tertunduk berisi penuh. Saya yang bekerja duduk seharian berangkat pagi pulang malam saja kok rasanya tidak mungkin untuk bisa menggapai mobil mewah tersebut.

Eh tapi kalopun mampu dan bisa, kayaknya saya juga tidak akan memilih mobil tersebut untuk dijadikan sarana transportasi keluarga. Rasanya kurang pantas saja, hidup di lingkungan yang masih lugu memiliki barang super mewah seperti itu. Lagipula rasanya mubazir saja jika punya mobil dengan kelebihannya bisa melaju kencang, tapi jalanan yang biasa saya lalui penuh dengan kemacetan. Saya tidak bakal bisa memanfaatkan kelebihannya, kan..

*halaah bilang aja ga punya duit buat beli Ferrari, hehehe..

Terlepas dari itu semua, saya sih ikut merasa senang-senang saja jika ada seorang petani di daerah kami ini yang mampu memiliki sebuah Ferrari. Bisa jadi Ferrari yang teronggok di depan pintu masuk perumahan kami ini menjadi pemicu semangat warga perumahan untuk tambah giat bekerja.

Postingan kali ini rasanya kok naif dan ga penting banget untuk di bahas ya. Gak papa deh, yang penting curhat bisa diungkapkan dalam blog dan postingan blog saya bisa bertambah lagi #eaaa

Rabu, 10 September 2014

Keep Strong..

 
 
 
 


 
My strength did not come
from lifting weights.
My strength comes from lifting
myself up when
I was knocked down..


Selasa, 09 September 2014

Tentang Mimpi..




Bicara tentang mimpi yang dialami saat sedang tertidur itu seperti membahas sesuatu yang tak habis-habis walaupun sering terdengar alasannya tidak logis.
Sekarang bagaimana mau dibilang logis, jika suasana dalam mimpi tersebut jika dicerminkan dalam kehidupan nyata jelas-jelas berbeda?

Mimpi adalah bunga tidur.
Layaknya sekuntum bunga yang menghiasi sebuah taman rumah kita, mimpi bagaikan penghias dari tidur dan istirahat kita dari lelah yang menghinggap raga.

Dan memimpikan seseorang??

Kadang saat kita rindu dan memikirkan tentang seseorang, dia hadir dalam mimpi kita. Kadang saat berkumpul dengan teman dan membicarakan seseorang, tiba-tiba dia muncul sebagai bunga tidur. Namun tak jarang pula kita bermimpi tentang seseorang yang kita sebelumnya sama sekali tidak memikirkan bahkan membayangkannya pun tidak.

Dari beberapa kali berselancar di internet, ditemukan ada yang bilang, jika kita memimpikan seseorang dan kita sedang tidak memikirkan dia, maka artinya orang yang hadir dalam mimpi kita itulah yang sedang memikirkan kita.

Belum tentu kita yang sedang merindukan dia, tapi besar kemungkinan orang dalam mimpi itulah yang merindukan kita.

Tapi akankah benar begitu? Entahlah..
Konon hal itu terjadi karena ada semacam koneksi antara kita dengan orang yang menjadi pemeran utama dalam mimpi tersebut.
* bole percaya dan jangan ga percaya lho.. #eh

Namun menurut opini abal-abal yang di tulis di sini, yang menjadi inti masalah bukan karena kita yang sedang memikirkannya kemudian kita memimpikannya, tapi justru karena seseorang yang tiba-tiba hadir dalam mimpi, kita jadi memikirkan orang itu.
Dampak inilah yang akhirnya terkesan
memaksa kita untuk jadi memikirkan seseorang yang melintas dalam mimpi. Terbangun dari mimpi jadi tiba-tiba rindu, jadi melow, atau bahkan bisa-bisa kita mengais-ais kenangan yang telah lama terkubur dalam-dalam.

Adakah di antara pembaca pernah mengalami hal seperti ini??


Kopi Pagi..




Secangkir kopi susu di pagi ini..
Menemani gundah yang mengendap di dalam sini..
Mengingat seorang kawan dekat yang sedang berjuang mengendalikan diri,
Melawan ganasnya sel-sel yang bersemayam dalam dadanya.

Tetaplah kuat kawan,
Kami di sini selalu mendoakan engkau menang dan menjadi pahlawan.

Jumat, 05 September 2014

Berujung Rindu


Subuh menjelang.

Telah tiba saatnya sang malam beranjak perlahan ke tepian Barat. Ufuk Timur mulai memancarkan cahaya yang tampak malu-malu menyibak kelam. Fajar hadir diiringi dinginnya udara pagi yang lembut mengusap kulit tubuhku.

Ya, sisa-sisa hujan kemarin sore masih terasa di subuh menyambut pagi ini.

Segar terasa. Hujan yang turun membasahi bumi selalu membekas dan mengusik pojok hati yang penuh dengan memori masa lalu. Kenangan yang kemudian menari-nari indah di pelupuk mata. Menguasai jiwa.

Aroma segar udara yang berbaur dengan rintik hujan ini membuatku sering terpaku, Satu per satu bayangan masa lalu kembali bermunculan, mengulik berbagai macam rasa yang hadir karenanya. Ada bahagia dan ceria, sedih dan perih, sendu dan syahdu, canda dan tawa.

Dan entah mengapa.. semua kenangan yang kembali hadir itu berujung pada satu kata tentang kamu : rindu.

Tenang..



 
 
Selalu belajar..belajar..dan belajar.
Karena ujian kehidupan
hadir tanpa kebetulan,
dengan berbagai alasan,
dan tanpa kita tau
kapan datangnya.
 
Yang pasti kita harus selalu siap,
harus selalu tegar,
harus selalu tenang,
 dan sabar menghadapinya.



Kamis, 04 September 2014

Setegar Karang..



 
Pagi ini..
Hanya ketenangan dan ketegaran saja
yang ingin aku rasakan.
Setenang dedaunan menari
tertiup angin samudra.
Dan setegar karang di tepi laut,
bertahan dari terik sang surya
dan debur ombak
yang terus-terusan menerpa.


Rabu, 03 September 2014

Butuh Waktu



Untuk saat ini, aku ikhlas.
Mungkin keikhlasan yang hanya
di ujung bibir saja.
Dan aku butuh waktu,
beberapa waktu,
agar aku bisa benar-benar ikhlas.
Tidak hanya di ujung bibir saja,
tetapi juga dalam hati.


Kehilangan



Apapun, bagaimanapun, yang namanya kehilangan pasti meninggalkan kegundahan hati.


Selasa, 02 September 2014

Thinking Positively...


Hmm..
Makan siang kali ini cukup membuat saya mengeluarkan energi yang tidak sedikit. Tidak hanya energi untuk mengunyah dan menghabiskan makanan yang terhidang di hadapan, tetapi juga energi saat menghadapi curhatan teman makan di siang hari.


Awalnya memang kami janjian untuk makan bersama karena sudah sekian lama kami tak bertemu dan ngobrol banyak tentang semuanya.
Saat menunggu pesanan datang, yang kata waiternya memang baru bisa terhidang sekitar 15-20menit lagi, kamipun mulai bercerita segala hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini. Ajang ini seakan-akan menjadi wadah bagi kami untuk meluapkan rasa kangen karena lama tak bertemu. Berbagai cerita mengalir begitu saja dari masing-masing kami. Teman saya mencurahkan isi hatinya tentang anak semata wayangnya yang menurut dia kondisinya berbeda dengan anak-anak yang lain. Sebenarnya saya kurang mengerti, di mana letak berbedanya. Toh yang namanya anak-anak pasti kan tingkah polahnya bermacam-macam. Ada yang seru, lucu, nggemesin, banyak senyum, banyak bicara, banyak bertanya, atau juga yang banyak tingkah. Dan menurut saya anaknya juga normal, sama seperti lainnya.
Tapi menurut teman saya itu, anaknya tuh lain dengan anak yang lain. Lain dalam arti kata tidak bisa diam. Adaaa aja yang dikerjakan, adaaa aja yang dipegang, adaaa aja yang menarik perhatiannya sehingga anak itu harus jalan ke sana dan ke mari sekedar melihat sesuatu benda dari dekat atau hanya untuk memegang dan mengamati bentuknya. Punya mainan juga tidak awet kondisinya. Pagi dibelikan truk mainan, siangnya roda udah lepas sana sini karena truk tersebut dinaiki, phisically. Bundanya ingin anaknya ini mbok iyao seperti anak tetangga sebelahnya, yang kalo punya mainan tuh bisa awet beberapa bulan bahkan beberapa tahun, semua mainan bisa tersimpan rapi dengan kondisi yang masi bagus dan lengkap (kali aja orangtuanya punya toko mainan grosir *wink* )
Bundanya ingin anaknya tuh anteng, diem, penurut seperti anak-anak lainnya yang tidak berjalan ke sana ke mari sampe susah diikuti orangtuanya (anaknya ngajak ortunya olahraga tuh)

Di sini saya mulai tercengang.
Rasanya kok jleb banget ketika mendengar curhatan temen saya itu. Lalu saya menimpali ceritanya, bahwa kita, seorang ibu, sangat tidak boleh sekali membandingkan anak kita dengan anak lain, apalagi sampe mengatakannya langsung pada anak sendiri. Misalnya, ”Aduh nak, kamu tuh kok gak bisa anteng seperti A. Lihat itu A, bisa duduk anteng, ga jalan ke sana ke sini. Sudah sini, duduk anteng seperti A”
Atau ”Ayo sini belajar baca, si B udah bisa baca lho. Masak kamu yang lebih besar belum bisa”.
Kita sering sekali menjumpai hal-hal semacam ini. Namun yang harus menjadi catatan bagi seorang ibu untuk anaknya, jangan pernah sekali-kali membandingkan anak kita dengan anak lain, apalagi dengan saudaranya sendiri, kakak/adiknya.
Karena sejatinya, siapapun dia, apabila dibanding-bandingkan, pasti akan merasa sakit hati. Coba deh diterapkan sama diri kita sendiri. Bagaimana rasanya saat diri kita dibanding-bandingkan dengan yang lain? Apalagi jika dibandingkannya hal-hal yang negatif di diri kita? Pasti kita juga akan sakit hati kan?
Sama, hal ini juga dialami oleh anak-anak, hanya aja anak kita mungkin tidak bisa mengungkapkan bahwa dia tidak suka dibanding-bandingkan. Mungkin mereka hanya menyimpan rapat-rapat sakit hati karena dibandingkan itu. Tidak jarang sakit hati yang disimpan ini yang bisa membentuk karakter anak ke depannya.
Anak jadi tidak punya rasa percaya diri yang kuat, karena orangtuanya sendiri tidak bangga sepenuhnya terhadap anaknya. Kita harus menyadari bahwa anak kita itu memang berbeda dari lainnya. Masing-masing anak itu unik. Kita tidak bisa mengharuskan anak kita sama dengan yang lain. Jika kita menginginkan anak kita sesuai dengan apa yang kita harapkan, lebih baik kita mencontohkan hal-hal yang baik pada anak kita. Karena sebenarnya anak itu peniru ulung. Jika kita konsisten bersikap baik dan positif, pasti anak akan berlaku baik dan positif, seperti yang kita contohkan setiap harinya.

Dan tetiba saja air mata menetes di pipi temen saya. Bagaimana saya tidak kaget, karena begitu giliran saya ngomong panjang lebar tetiba dia nangis berderai-derai seperti itu.
Akhirnya saya diam, tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang mungkin bisa membuatnya semakin menangis. Rasanya bersalah banget, kenapa saya bisa sampai membuatnya menangis seperti itu.
Semoga saja apa yang saya sampaikan tidka membuatnya sakit hati. Saya berjanjii sesampainya di rumah nanti akan langsung minta maaf padanya bila ada kata-kata yang telah menyinggung hatinya.
Ini yang paling menguras energi saya. Bukan karena cerita tentang anaknya, bukan karena kata-kata yang saya ucapkan padanya, bukan tentang makanan yang ada di hadapan, tapi tentang perasaan yang saya alami setelah melhat teman yang tiba-tiba menangis itu. Ya, mungkin rasa bersalah itu yang membuat energi saya terkuras habis. Sepanjang sisa hari itu terlewati dengan hati yang gundah. Semoga niat positif yang terlontar dalam acara makan siang bersama tadi tidak ditanggapi negatif. Karena saya hanya ingin dia, teman saya, sebagai orangtua, harus bangga dengan anaknya. Apapun dan bagaimanapun anak. Karena anak yang disupport oleh kedua orangtuanya dengan sepenuh hati akan tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.  Ini saja harapan saya.