Kembali
terik panas sore ini membuatku merenung.
Angin yang berhembus, meniupkan tarian indah pada pucuk daun cemara.
Menghembuskan anganku pada saat itu..
Saat kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Angin yang berhembus, meniupkan tarian indah pada pucuk daun cemara.
Menghembuskan anganku pada saat itu..
Saat kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Semestinya,
pada perjumpaan itu, aku tidak mengikutsertakan rasa.
Semestinya, pada sua ke sekian kali itu, hati tidak ikut bicara.
Dan sentuhan hangat pada waktu itu hanya kebetulan semata. Tidak serta merta karena ingin bersisian tapi karena canda tawa dan senda gurau semata.
Semestinya, pada sua ke sekian kali itu, hati tidak ikut bicara.
Dan sentuhan hangat pada waktu itu hanya kebetulan semata. Tidak serta merta karena ingin bersisian tapi karena canda tawa dan senda gurau semata.
Kupikir
kedekatan kita hanya karena saat itu kita sering bersama dalam sedikit masa.
Hanya sesaat masa.
Dan tidak akan terusik karenanya.
Namun ternyata aku salah menduga. Aku hanya perempuan biasa. Perempuan keturunan Hawa. Yang mungkin tidak luput dari salah dan goda.
Dan tidak akan terusik karenanya.
Namun ternyata aku salah menduga. Aku hanya perempuan biasa. Perempuan keturunan Hawa. Yang mungkin tidak luput dari salah dan goda.
Ya, tetiba saja
aku merasakan ada yang berbeda. Ingin selalu berbincang dengannya. Juga tertawa
bersama. Walau kadang diam seribu bahasa, walau masing-masing sering sibuk
dengan gadgetnya, itu tak mengapa. Yang penting kita bersama. Dalam satu ruang
dan satu dimensi. Tak berjarak lagi.
…waktu
itu. Sebuah masa lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar