Selasa, 02 September 2014

Thinking Positively...


Hmm..
Makan siang kali ini cukup membuat saya mengeluarkan energi yang tidak sedikit. Tidak hanya energi untuk mengunyah dan menghabiskan makanan yang terhidang di hadapan, tetapi juga energi saat menghadapi curhatan teman makan di siang hari.


Awalnya memang kami janjian untuk makan bersama karena sudah sekian lama kami tak bertemu dan ngobrol banyak tentang semuanya.
Saat menunggu pesanan datang, yang kata waiternya memang baru bisa terhidang sekitar 15-20menit lagi, kamipun mulai bercerita segala hal yang terjadi di beberapa waktu terakhir ini. Ajang ini seakan-akan menjadi wadah bagi kami untuk meluapkan rasa kangen karena lama tak bertemu. Berbagai cerita mengalir begitu saja dari masing-masing kami. Teman saya mencurahkan isi hatinya tentang anak semata wayangnya yang menurut dia kondisinya berbeda dengan anak-anak yang lain. Sebenarnya saya kurang mengerti, di mana letak berbedanya. Toh yang namanya anak-anak pasti kan tingkah polahnya bermacam-macam. Ada yang seru, lucu, nggemesin, banyak senyum, banyak bicara, banyak bertanya, atau juga yang banyak tingkah. Dan menurut saya anaknya juga normal, sama seperti lainnya.
Tapi menurut teman saya itu, anaknya tuh lain dengan anak yang lain. Lain dalam arti kata tidak bisa diam. Adaaa aja yang dikerjakan, adaaa aja yang dipegang, adaaa aja yang menarik perhatiannya sehingga anak itu harus jalan ke sana dan ke mari sekedar melihat sesuatu benda dari dekat atau hanya untuk memegang dan mengamati bentuknya. Punya mainan juga tidak awet kondisinya. Pagi dibelikan truk mainan, siangnya roda udah lepas sana sini karena truk tersebut dinaiki, phisically. Bundanya ingin anaknya ini mbok iyao seperti anak tetangga sebelahnya, yang kalo punya mainan tuh bisa awet beberapa bulan bahkan beberapa tahun, semua mainan bisa tersimpan rapi dengan kondisi yang masi bagus dan lengkap (kali aja orangtuanya punya toko mainan grosir *wink* )
Bundanya ingin anaknya tuh anteng, diem, penurut seperti anak-anak lainnya yang tidak berjalan ke sana ke mari sampe susah diikuti orangtuanya (anaknya ngajak ortunya olahraga tuh)

Di sini saya mulai tercengang.
Rasanya kok jleb banget ketika mendengar curhatan temen saya itu. Lalu saya menimpali ceritanya, bahwa kita, seorang ibu, sangat tidak boleh sekali membandingkan anak kita dengan anak lain, apalagi sampe mengatakannya langsung pada anak sendiri. Misalnya, ”Aduh nak, kamu tuh kok gak bisa anteng seperti A. Lihat itu A, bisa duduk anteng, ga jalan ke sana ke sini. Sudah sini, duduk anteng seperti A”
Atau ”Ayo sini belajar baca, si B udah bisa baca lho. Masak kamu yang lebih besar belum bisa”.
Kita sering sekali menjumpai hal-hal semacam ini. Namun yang harus menjadi catatan bagi seorang ibu untuk anaknya, jangan pernah sekali-kali membandingkan anak kita dengan anak lain, apalagi dengan saudaranya sendiri, kakak/adiknya.
Karena sejatinya, siapapun dia, apabila dibanding-bandingkan, pasti akan merasa sakit hati. Coba deh diterapkan sama diri kita sendiri. Bagaimana rasanya saat diri kita dibanding-bandingkan dengan yang lain? Apalagi jika dibandingkannya hal-hal yang negatif di diri kita? Pasti kita juga akan sakit hati kan?
Sama, hal ini juga dialami oleh anak-anak, hanya aja anak kita mungkin tidak bisa mengungkapkan bahwa dia tidak suka dibanding-bandingkan. Mungkin mereka hanya menyimpan rapat-rapat sakit hati karena dibandingkan itu. Tidak jarang sakit hati yang disimpan ini yang bisa membentuk karakter anak ke depannya.
Anak jadi tidak punya rasa percaya diri yang kuat, karena orangtuanya sendiri tidak bangga sepenuhnya terhadap anaknya. Kita harus menyadari bahwa anak kita itu memang berbeda dari lainnya. Masing-masing anak itu unik. Kita tidak bisa mengharuskan anak kita sama dengan yang lain. Jika kita menginginkan anak kita sesuai dengan apa yang kita harapkan, lebih baik kita mencontohkan hal-hal yang baik pada anak kita. Karena sebenarnya anak itu peniru ulung. Jika kita konsisten bersikap baik dan positif, pasti anak akan berlaku baik dan positif, seperti yang kita contohkan setiap harinya.

Dan tetiba saja air mata menetes di pipi temen saya. Bagaimana saya tidak kaget, karena begitu giliran saya ngomong panjang lebar tetiba dia nangis berderai-derai seperti itu.
Akhirnya saya diam, tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang mungkin bisa membuatnya semakin menangis. Rasanya bersalah banget, kenapa saya bisa sampai membuatnya menangis seperti itu.
Semoga saja apa yang saya sampaikan tidka membuatnya sakit hati. Saya berjanjii sesampainya di rumah nanti akan langsung minta maaf padanya bila ada kata-kata yang telah menyinggung hatinya.
Ini yang paling menguras energi saya. Bukan karena cerita tentang anaknya, bukan karena kata-kata yang saya ucapkan padanya, bukan tentang makanan yang ada di hadapan, tapi tentang perasaan yang saya alami setelah melhat teman yang tiba-tiba menangis itu. Ya, mungkin rasa bersalah itu yang membuat energi saya terkuras habis. Sepanjang sisa hari itu terlewati dengan hati yang gundah. Semoga niat positif yang terlontar dalam acara makan siang bersama tadi tidak ditanggapi negatif. Karena saya hanya ingin dia, teman saya, sebagai orangtua, harus bangga dengan anaknya. Apapun dan bagaimanapun anak. Karena anak yang disupport oleh kedua orangtuanya dengan sepenuh hati akan tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.  Ini saja harapan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar