Dont Judge A Book By Its Cover.
Jangan pernah menilai seseorang hanya dari luarnya
saja, hanya dari penampilan, dari fisiknya. Semua itu bisa menipu mata kita. Alangkah
lebih baiknya jika menilai seseorang itu menggunakan mata hati, sehingga akan
terlihat pancaran aura kepribadiannya. Niscaya kita akan melihat nilai-nilai
luhur, budi pekerti yang sebenarnya.
Namun bukan berarti kita harus berpikiran
negatif saat pertama kali bertemu dengan seseorang atau seorang teman. Sebagai
seorang muslim kita diharuskan untuk selalu berbaik sangka terhadap apapun. Terhadap
siapapun. Tidak terkecuali dengan seseorang yang baru pertama kita temui
tersebut.
Tidak ada ruginya kok untuk berbaik sangka. Malah mungkin itu bisa menambah pahala (aamiin).
Setelah bertemu dan berbincang-bincang inilah yang mungkin membawa kita untuk bisa menilai seseorang itu. Di sinilah quote di atas itu bisa diterapkan. Pada saat kita menilai seseorang, jangan sekali-kali melihat dari penampilan fisiknya.
Dari beberapa kesempatan berbincang, bertatap muka, mengamati tindakan dan perilakunya inilah kita baru bisa menilai orang tersebut. Apakah tutur katanya sopan dan tulus? Apakah tindak tanduknya menjunjung tinggi norma-norma yang beradab ataukah berperilaku seenaknya?
Karena bisa jadi seseorang yang mampu berkata dengan sopan dan baik belum tentu jujur. Mungkin ada beberapa maksud dan tujuan lain di dalamnya. Bisa saja mempunyai tutur kata baik tapi tidak ditunjang oleh perilaku yang baik dan sopan pula.
Saya jadi teringat ada temannya teman yang memiliki kemampuan verbal yang bagus, dan saya bertemu dengannya pada saat dia menjelaskan tentang satu bentuk investasi di mana hasil balik yang didapat cukup besar dan modal yang ditanam dijamin aman. Nah untuk maksud-maksud seperti ini jelas sekali dia akan menggunakan tutur kata yang baik karena dia berusaha untuk membuat lawan bicaranya tertarik dengan investasi yang ditawarkan. Saya yang mendengarnya saja merasakan bahwa ucapannya bener-bener empuk. Menggiurkan. Dan membuat orang lain tertarik. Tapi untuk saya yang kebetulan saat itu masih bisa berpikir logis, sedikitpun tidak tergoda oleh empuknya omongan temannya teman itu. Mungkin saking empuknya, saya malah jadi curiga dengan investasinya. Jika hasil yang didapat besar dan dalam waktu singkat, pastilah mengandung resiko yang juga besar. High return high risk.
Kembali ke temannya teman, kemampuan verbal bagus yang dimiliki ini ternyata tidak diimbangi dengan santun tindakannya. Sambil beliau menerangkan tangannya masih juga menjepit rokok, dan kata-kata yang keluarpun seiring dengan asap rokok yang seolah-olah berlomba keluar dari tempat yang gelap dan pengap. Belum lagi abu yang dijentikkan dari rokok tersebut tidak di atas asbak yang telah disediakan, melainkan sembarangan dijentikkan di atas lantai rumah. Duh, yang model kayak gini ini yang langsung bikin ilfil. Rasanya pengen nyecek tuh rokok ke tangannya (Lah kok saya yang malah jadi sadis ya?! Hehehe..)
Tidak ada ruginya kok untuk berbaik sangka. Malah mungkin itu bisa menambah pahala (aamiin).
Setelah bertemu dan berbincang-bincang inilah yang mungkin membawa kita untuk bisa menilai seseorang itu. Di sinilah quote di atas itu bisa diterapkan. Pada saat kita menilai seseorang, jangan sekali-kali melihat dari penampilan fisiknya.
Dari beberapa kesempatan berbincang, bertatap muka, mengamati tindakan dan perilakunya inilah kita baru bisa menilai orang tersebut. Apakah tutur katanya sopan dan tulus? Apakah tindak tanduknya menjunjung tinggi norma-norma yang beradab ataukah berperilaku seenaknya?
Karena bisa jadi seseorang yang mampu berkata dengan sopan dan baik belum tentu jujur. Mungkin ada beberapa maksud dan tujuan lain di dalamnya. Bisa saja mempunyai tutur kata baik tapi tidak ditunjang oleh perilaku yang baik dan sopan pula.
Saya jadi teringat ada temannya teman yang memiliki kemampuan verbal yang bagus, dan saya bertemu dengannya pada saat dia menjelaskan tentang satu bentuk investasi di mana hasil balik yang didapat cukup besar dan modal yang ditanam dijamin aman. Nah untuk maksud-maksud seperti ini jelas sekali dia akan menggunakan tutur kata yang baik karena dia berusaha untuk membuat lawan bicaranya tertarik dengan investasi yang ditawarkan. Saya yang mendengarnya saja merasakan bahwa ucapannya bener-bener empuk. Menggiurkan. Dan membuat orang lain tertarik. Tapi untuk saya yang kebetulan saat itu masih bisa berpikir logis, sedikitpun tidak tergoda oleh empuknya omongan temannya teman itu. Mungkin saking empuknya, saya malah jadi curiga dengan investasinya. Jika hasil yang didapat besar dan dalam waktu singkat, pastilah mengandung resiko yang juga besar. High return high risk.
Kembali ke temannya teman, kemampuan verbal bagus yang dimiliki ini ternyata tidak diimbangi dengan santun tindakannya. Sambil beliau menerangkan tangannya masih juga menjepit rokok, dan kata-kata yang keluarpun seiring dengan asap rokok yang seolah-olah berlomba keluar dari tempat yang gelap dan pengap. Belum lagi abu yang dijentikkan dari rokok tersebut tidak di atas asbak yang telah disediakan, melainkan sembarangan dijentikkan di atas lantai rumah. Duh, yang model kayak gini ini yang langsung bikin ilfil. Rasanya pengen nyecek tuh rokok ke tangannya (Lah kok saya yang malah jadi sadis ya?! Hehehe..)
Untuk urusan nilai-menilai ini saya kembalikan
pada individu masing-masing, bagaimana mau menilai seseorang. Saya hanya
berusaha untuk mengingatkan saja karena seringkali kita tergelincir akibat
menilai seseorang hanya dari penampilannya, hanya dari luarnya saja.
Semoga untuk ke depannya kita bisa jadi
lebih berhati-hati untuk tidak terhasut oleh tipu daya fisik dan tidak
tergelincir lagi oleh penampilan luar seseorang.
Tetap tampil apa adanya dan jangan ada
apanya.
Okeh??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar