Rasa
penasaran mengalahkan logika. Saya pernah membaca pernyataan tersebut pada
judul sebuah artikel di salah satu majalah lama. Saking penasarannya dengan apa
yang terjadi ketika melihat orang yang menggelepar-gelepar di tepi jalan, banyak
orang yang dengan enaknya berhenti untuk melihat sejenak dan bahkan mengamati
apa yang sebenarnya terjadi. Dan sering pula orang ini tidak menghiraukan keadaan
sekitarnya saat berhenti, bisa jadi berhenti mendadak gak peduli dengan
kendaraan yang di belakangnya, bisa jadi dia berhentinya tidak menepi dulu,
bahkan di tengah jalan demi bisa melihat kejadiannya dan ini menghalangi
pengguna jalan yang lainnya.
Saya
jadi ingat kalo saya pernah dirundung rasa penasaran ini pada saaat saya masih
kecil imut-imut nggemesin. Satu hari nenek minta bantuan mamang tukang
kebun untuk membereskan dan merapikan kebun kecil di sudut pekarangan rumah. Sepulang
sekolah saya nungguin mamang itu bekerja, memperhatikan apa-apa aja yang
dikerjakannya. Rasanya penasaran banget, bagaimana caranya si mamang bisa
menyulap lahan kosong bisa menjadi sebuah sudut yang indah dipandang mata. Tiba-tiba
perhatian saya tertumbuk pada bungkusan plastik yang tergeletak di dekat si
mamang. Isinya butiran kristal putih yang serupa dengan gula pasir. Sebagai seorang
penggemar rasa manis sejati sampai-sampai wajah ini ketularan manisnya, saya
pun langsung berbinar melihat seplastik gula pasir ini. Kayak yang ga bisa
lihat gula nganggur sedikit. Saya jadi penasaran dan bertanya kenapa kok bisa
ada gula pasir di kebun, bukannya seharusnya ada di dapur. Mamangnya bilang sih
bukan gula pasir biasa yang untuk bikin teh atau kopi tapi itu gula pasir untuk
tanah. Widih, mamang bisa aja deh, masak iya tanah musti digulapasirin kayak
gini. Jangan-jangan si mamang begitu karena dia ga mau saya yang udah manis ini
jadi tambah manis kalo nyomot gula pasirnya #huek.
Saya malah jadi tambah penasaran, gula yang manis gini kok mau dipake untuk
tanah, kan sayang banget tuh. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, mamang
pun pergi mengambil air. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya langsung menyendok
gula pasir itu dan hap, masuk mulut. Aman, mamang tidak melihat. Eh tapi kok
rasa gulanya aneh begini ya? Manis endak tapi kok agak-agak pahit dan rada
panas gini di tenggorokan. Dan tiba-tiba saja saya udah pening, kliyengan menggapai-gapai
tembok agar tidak jatuh. Tapi terlambat, waktu itu saya udah jatuh dan rasanya
tidak karu-karuan. Langsung mamang memanggil nenek dan saya disuruh minum sus
banyak-banyak. Ternyata saya keracunan sodara-sodara.. Butiran kristal yang
saya pikir gula pasir itu ternyata pupuk tanaman. Pantesan rasanya kok pahit dan
panas di tenggorokan. Untuung aja tidak berakibat fatal, jika
saya menyendoknya sampai tiga kali, bisa-bisa saya sudah wassalam.
#SehariMenuliSatu #Day17 @swaragamafm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar