Kamis, 06 November 2014

Memori Masa Kecil



Rasa penasaran mengalahkan logika. Saya pernah membaca pernyataan tersebut pada judul sebuah artikel di salah satu majalah lama. Saking penasarannya dengan apa yang terjadi ketika melihat orang yang menggelepar-gelepar di tepi jalan, banyak orang yang dengan enaknya berhenti untuk melihat sejenak dan bahkan mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Dan sering pula orang ini tidak menghiraukan keadaan sekitarnya saat berhenti, bisa jadi berhenti mendadak gak peduli dengan kendaraan yang di belakangnya, bisa jadi dia berhentinya tidak menepi dulu, bahkan di tengah jalan demi bisa melihat kejadiannya dan ini menghalangi pengguna jalan yang lainnya.

Saya jadi ingat kalo saya pernah dirundung rasa penasaran ini pada saaat saya masih kecil imut-imut nggemesin. Satu hari nenek minta bantuan mamang tukang kebun untuk membereskan dan merapikan kebun kecil di sudut pekarangan rumah. Sepulang sekolah saya nungguin mamang itu bekerja, memperhatikan apa-apa aja yang dikerjakannya. Rasanya penasaran banget, bagaimana caranya si mamang bisa menyulap lahan kosong bisa menjadi sebuah sudut yang indah dipandang mata. Tiba-tiba perhatian saya tertumbuk pada bungkusan plastik yang tergeletak di dekat si mamang. Isinya butiran kristal putih yang serupa dengan gula pasir. Sebagai seorang penggemar rasa manis sejati sampai-sampai wajah ini ketularan manisnya, saya pun langsung berbinar melihat seplastik gula pasir ini. Kayak yang ga bisa lihat gula nganggur sedikit. Saya jadi penasaran dan bertanya kenapa kok bisa ada gula pasir di kebun, bukannya seharusnya ada di dapur. Mamangnya bilang sih bukan gula pasir biasa yang untuk bikin teh atau kopi tapi itu gula pasir untuk tanah. Widih, mamang bisa aja deh, masak iya tanah musti digulapasirin kayak gini. Jangan-jangan si mamang begitu karena dia ga mau saya yang udah manis ini jadi tambah manis kalo nyomot gula pasirnya #huek. Saya malah jadi tambah penasaran, gula yang manis gini kok mau dipake untuk tanah, kan sayang banget tuh. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, mamang pun pergi mengambil air. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya langsung menyendok gula pasir itu dan hap, masuk mulut. Aman, mamang tidak melihat. Eh tapi kok rasa gulanya aneh begini ya? Manis endak tapi kok agak-agak pahit dan rada panas gini di tenggorokan. Dan tiba-tiba saja saya udah pening, kliyengan menggapai-gapai tembok agar tidak jatuh. Tapi terlambat, waktu itu saya udah jatuh dan rasanya tidak karu-karuan. Langsung mamang memanggil nenek dan saya disuruh minum sus banyak-banyak. Ternyata saya keracunan sodara-sodara.. Butiran kristal yang saya pikir gula pasir itu ternyata pupuk tanaman. Pantesan rasanya kok pahit dan panas di tenggorokan. Untuung aja tidak berakibat fatal, jika saya menyendoknya sampai tiga kali, bisa-bisa saya sudah wassalam.

#SehariMenuliSatu #Day17 @swaragamafm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar