Senin, 10 November 2014

Kamera Warni



Pak Sarno pagi ini terlihat tidak bersemangat, sedari pagi datang ke pangkalan becak di ujung jalan itu rautnya murung. Bahkan dia hanya duduk diam dan melamun, tidak tertarik untuk berlomba mendapatkan penumpang seperti teman-teman seprofesinya, seorang tukang becak. Betapa tidak sedih, anak satu-satunya, Warni, semalam minta dibelikan kamera. Katanya kameranya ini akan digunakan selama Warni ke Bali, studi tour yang diadakan sekolah, di mana hasil kunjungan ke Bali tersebut harus dibuat dalam bentuk makalah dan menjadi salah satu syarat kenaikan kelas. Penghasilan Pak Sarno sebagai tukang becak yang pas-pasan ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Oalah Gusti, dari mana aku harus mencari uang sebanyak itu untuk membeli kamera buat Warni?? Akhirnya Pak Sarno pun pulang karena mendadak badannya terasa lemas.

Dalam perjalanan pulang, Pak Sarno mengayuh becaknya perlahan-lahan. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada seorang anak yang sedang menangis di balik sebuah pohon besar. Pak Sarno pun berhenti dan mencoba bertanya di mana rumahnya. Namun karena masih ketakutan, anak kecil berumur sekitar 5 tahun itu tidak menjawabnya. Karena bingung apa yang harus dilakukannya, satu-satunya hal yang terpikirkan adalah ke kantor polisi terdekat. Setelah menceritakan dengan singkat, 2 orang polisi segera meluncur ke lokasi si anak. Entah apa yang terjadi setelahnya karena Pak Sarno pun langsung pulang mengingat badannya yang makin lemas. Sampai di rumah Pak Sarno tiduran di amben kecil, bingung memikirkan bagaimana memenuhi keinginan Warni hingga dia tertidur. Tiba-tiba pintu rumahnya digedor-gedor keras sekali. Pak Sarno terbangun dengan dada berdegup kencang. Aah, ternyata hari sudah sore. Dengan berjalan tertatih-tatih dan kepala pusing, Dia membukakan pintu. Kaget bukan kepalang, ternyata ada 2 polisi yang telah ia kenal datang bersama seorang laki-laki gagah berkumis. Salah seorang polisi menjelaskan perihal kedatangannya mereka, bahwa Bapak Kusuma, laki-laki berkumis itu, minta ditemani bertemu dengan Pak Sarno. Bapak Kusuma datang untuk mengucapkan terimakasih karena Pak Sarno telah menolong Debbie, anaknya yang berumur 5 tahun itu, yang hilang sejak pagi hari. Sebagai ungkapan terimakasih, Bapak Kusuma memberikan bingkisan untuk Pak Sarno. Masih kebingungan dengan apa yang terjadi di rumahnya, Pak Sarno hanya mampu mengangguk-angguk berterimakasih dan berkaca-kaca. Doanya dijawab oleh Tuhan, di dalam bingkisan yang diterima dari Bapak Kusuma, ada setumpuk uang berlembar merah, yang semoga saja cukup untuk membeli kamera Warni. Pak sarno pun tersenyum.
#SehariMenuliSatu #Day19 @swaragamafm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar