Pak Sarno pagi ini terlihat tidak bersemangat, sedari
pagi datang ke pangkalan becak di ujung jalan itu rautnya murung. Bahkan dia
hanya duduk diam dan melamun, tidak tertarik untuk berlomba mendapatkan
penumpang seperti teman-teman seprofesinya, seorang tukang becak. Betapa tidak
sedih, anak satu-satunya, Warni, semalam minta dibelikan kamera. Katanya kameranya
ini akan digunakan selama Warni ke Bali, studi tour yang diadakan sekolah, di
mana hasil kunjungan ke Bali tersebut harus dibuat dalam bentuk makalah dan menjadi
salah satu syarat kenaikan kelas. Penghasilan Pak Sarno sebagai tukang becak
yang pas-pasan ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Oalah Gusti, dari
mana aku harus mencari uang sebanyak itu untuk membeli kamera buat Warni?? Akhirnya
Pak Sarno pun pulang karena mendadak badannya terasa lemas.
Dalam perjalanan pulang, Pak Sarno mengayuh becaknya
perlahan-lahan. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada seorang anak yang sedang menangis
di balik sebuah pohon besar. Pak Sarno pun berhenti dan mencoba bertanya di
mana rumahnya. Namun karena masih ketakutan, anak kecil berumur sekitar 5 tahun
itu tidak menjawabnya. Karena bingung apa yang harus dilakukannya, satu-satunya
hal yang terpikirkan adalah ke kantor polisi terdekat. Setelah menceritakan
dengan singkat, 2 orang polisi segera meluncur ke lokasi si anak. Entah apa
yang terjadi setelahnya karena Pak Sarno pun langsung pulang mengingat badannya
yang makin lemas. Sampai di rumah Pak Sarno tiduran di amben kecil, bingung
memikirkan bagaimana memenuhi keinginan Warni hingga dia tertidur. Tiba-tiba
pintu rumahnya digedor-gedor keras sekali. Pak Sarno terbangun dengan dada
berdegup kencang. Aah, ternyata hari sudah sore. Dengan berjalan
tertatih-tatih dan kepala pusing, Dia membukakan pintu. Kaget bukan kepalang,
ternyata ada 2 polisi yang telah ia kenal datang bersama seorang laki-laki
gagah berkumis. Salah seorang polisi menjelaskan perihal kedatangannya mereka,
bahwa Bapak Kusuma, laki-laki berkumis itu, minta ditemani bertemu dengan Pak
Sarno. Bapak Kusuma datang untuk mengucapkan terimakasih karena Pak Sarno telah
menolong Debbie, anaknya yang berumur 5 tahun itu, yang hilang sejak pagi hari.
Sebagai ungkapan terimakasih, Bapak Kusuma memberikan bingkisan untuk Pak
Sarno. Masih kebingungan dengan apa yang terjadi di rumahnya, Pak Sarno hanya
mampu mengangguk-angguk berterimakasih dan berkaca-kaca. Doanya dijawab oleh
Tuhan, di dalam bingkisan yang diterima dari Bapak Kusuma, ada setumpuk uang
berlembar merah, yang semoga saja cukup untuk membeli kamera Warni. Pak sarno
pun tersenyum.
#SehariMenuliSatu #Day19 @swaragamafm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar