Peluh
membasahi dahi, pipi, leher, dan juga kaki Tiani. Ruangan yang gelap tanpa ada
sedikitpun ventilasi membuat nafasnya makin tersengal. Tiani duduk, meringkuk,
dan tertunduk. Dia harus tetap demikian agar posisinya aman terlindung, walau
kini ketegangan semakin melanda hatinya. Di antara nyanyian degup jantung
yang berdebaran, Tiani mencoba mencari-cari suara di luar sana. Adakah terdengar
kaki melangkah..? Adakah suara jejak sandal yang mendekat..? Adakah dengus
kelelahan yang terasa..?
Tok..tok..tok..
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk keras sekali. Tanpa menunggu aba-aba berikutnya, pintu telah terbuka dengan sekali sentak, angin segar dan cahaya luar langsung menyeruak, menyilaukan mata Tiani yang menyeripit berkedip-kedip, beradaptasi. Sesosok laki-laki yang telah ia kenal betul, muncul begitu saja di hadapannya.
Dan belum juga Tiani sadar dengan keadaan sekitar, Hendra telah menggandengnya seraya berbisik, ”Tiani, kamu ga perlu bersembunyi lagi sekarang. Ada aku yang selalu merawatmu di sini. Di panti rehabilitasi ini”
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk keras sekali. Tanpa menunggu aba-aba berikutnya, pintu telah terbuka dengan sekali sentak, angin segar dan cahaya luar langsung menyeruak, menyilaukan mata Tiani yang menyeripit berkedip-kedip, beradaptasi. Sesosok laki-laki yang telah ia kenal betul, muncul begitu saja di hadapannya.
Dan belum juga Tiani sadar dengan keadaan sekitar, Hendra telah menggandengnya seraya berbisik, ”Tiani, kamu ga perlu bersembunyi lagi sekarang. Ada aku yang selalu merawatmu di sini. Di panti rehabilitasi ini”
#SehariMenuliSatu
#Day3 @swaragamafm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar