Rabu, 11 Februari 2015

Tertib, Yuk..!


Mungkin tulisan berikut ini terlalu naif. Atau mungkin terlalu idealis. Yang jelas ada keinginan terpendam dari penulis untuk hidup dengan nikmat dan nyaman seperti halnya yang terjadi di beberapa negara lain, di mana hidup bisa dengan lebih aman dan suasananya sungguh nyaman.

Melihat kondisi lalu lintas akhir-akhir ini, terutama di kota saya, benar-benar sangat ruwet. Di mana-mana jalanan semakin padat oleh kendaraan bermotor yang jumlahnya sungguh mengalami peningkatan yang pesat dari tahun ke tahun. Bagaimana tidak pesat jika syarat kepemilikan sepeda motor saja sekarang makin tahun makin mudah dan ringan.

Bayangkan saja jika yang sebelumnya DP untuk ambil motor bisa mencapai 4-5juta, sekarang ini hanya dengan 600ribu sudah bisa dapat motor baru (eh bahkan tempo hari saya dapat brosur dari dealer gitu kalo DPnya hanya  400ribu!!!)
Gimana masyarakat ga ngiler coba hanya dengan uang segitu udah bisa nenteng pulang motor baru yang kinclong menclong belum berdebu. Asal nantinya mereka tidak keblinger aja dengan beban angsuran yang jelas lebih besar dan lebih lama jika dibanding beli motor dengan DP hingga 4-5juta tadi.

Namun kemampuan masyarakat untuk memiliki motor ini rupanya tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar mengenai tata tertib lalu lintas dan pemahaman untuk mematuhi rambu-rambu yang terpasang di jalan. Banyak sekali, sekarang ini, masyarakat yang jika berkendara cenderung egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Rambu lalu lintas yang telah dipasang sebagai alat pengatur para pengendara, baik roda dua atau lebih, banyak yang tidak menggubrisnya. Jangankan rambu yang di pinggir jalan, traffic light yang sebagian berada di tengah jalan aja sering banget tidak diindahkan.

Heran deh, sudah jadi pengetahuan umum jika lampu menyala merah artinya berhenti. Sejak kecil pun kita juga sudah diajarkan jika lampu menyala merah berarti kita harus berhenti di tempat yang telah disediakan, biasanya akan tampak marka jalan dan batasannya. Tapi yang saya amati beberapa bulan belakangan ini semakin banyak orang-orang yang melanggar lampu merah. Dan yang melanggarnya pun bukan hanya pemuda, tapi juga pemudi, ibu-ibu, bapak-bapak, om-om, tante-tante, kakek-kakek, nenek-nenek. Komplit banget dah. Eehh bahkan anak-anak seumuran 12-15tahunan gitu juga banyak yang melanggar lho. Haduuhh..sepertinya kok semakin banyak orang yang tidak mengindahkan etika di jalan raya.

Misal nih, lampu sedang menyala merah. Semestinya kita menunggu hingga lampu berganti hijau baru kemudian kita mendapat kesempatan untuk melaju. Tapi pada kenyataannya, sekarang ini banyak yang tidak sabaran. Sekiranya jalan agak sepi, walopun belum jatahnya jalan, udah pada banyak yang langsung tancap gas. Padahal menurut detikan yang terpasang di atas lampu, jatah hijaunya masih ada sekitar 30detik lagi. Disuruh nunggu ga sampe semeniiittt aja udah ga sabar. Lah itu kalo selamat, kalo tetiba ada motor yang datang dari arah yang berlawanan dan memang pas jatahnya dia dapat lampu hijau dan braakkk!! Yang rugi sapa coba? Nanggung kerugian kok ngajak2. Rugi waktu, karena jadi terlambat tiba di tujuan, rugi tenaga karena pasti badan ada yang memar dan kesakitan yang diderita, rugi uang karena harus mengganti kerusakan yang dialami. Tidak memikirkan kepentingan orang lain, hanya memburu nafsu sendiri untuk cepet-cepet tiba di tujuan.

Ada juga yang sok sabar, masih mau nunggu giliran jalan. Tapi begitu detikan nunjukin di angka 4, udah banyak juga pemotor yang ngacirrr. Atau kalo bukan pemotor, yang naik mobil pun udah ribut dengan klaksonnya. Ampuunn deh. Nunggu 4detik gitu apa susahnya sih? Apa kalo 4detik itu belum juga jalan, si pengendara mobil trus jadi telat gitu ke kantornya?? Ya sapa suruh situ berangkat telat. Bangun lebih pagi kek, biar ga buru-buru di jalan… *jadi emosi nih* Hehehee…

Jika mental masyarakat kita di jalan raya hanya sampai sebatas mementingkan diri sendiri seperti itu, mana mungkin bisa mewujudkan kenyamanan berlalu lintas di negeri sendiri. Jadi rasa-rasanya wajar saja kan kita merasa iri saat melihat betapa teraturnya kehidupan di negara-negara yang lebih maju itu. Betapa mereka dengan patuhnya berkendara di jalanan dan kondisi lalu lintas pun tidak semrawut.

Alangkah lebih baik lagi jika semua aturan yang sudah disepakati itu kita patuhi dengan kesadaran masing-masing. Semua memang harus diawali dari diri sendiri. Semoga jika masing-masing menyadari betapa pentingnya menjaga etika berlalu lintas ketertiban dan keteraturan berkendara di jalan raya bisa kita nikmati, suatu hari ini.
Yuk!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar