Mungkin tulisan berikut ini terlalu
naif. Atau mungkin terlalu idealis. Yang jelas ada keinginan terpendam dari
penulis untuk hidup dengan nikmat dan nyaman seperti halnya yang terjadi di
beberapa negara lain, di mana hidup bisa dengan lebih aman dan suasananya
sungguh nyaman.
Melihat kondisi lalu lintas
akhir-akhir ini, terutama di kota saya, benar-benar sangat ruwet. Di mana-mana
jalanan semakin padat oleh kendaraan bermotor yang jumlahnya sungguh mengalami
peningkatan yang pesat dari tahun ke tahun. Bagaimana tidak pesat jika syarat
kepemilikan sepeda motor saja sekarang makin tahun makin mudah dan ringan.
Bayangkan saja jika yang sebelumnya
DP untuk ambil motor bisa mencapai 4-5juta, sekarang ini hanya dengan 600ribu
sudah bisa dapat motor baru (eh bahkan tempo hari saya dapat brosur dari dealer
gitu kalo DPnya hanya 400ribu!!!)
Gimana masyarakat ga ngiler coba hanya dengan uang segitu udah bisa nenteng pulang motor baru yang kinclong menclong belum berdebu. Asal nantinya mereka tidak keblinger aja dengan beban angsuran yang jelas lebih besar dan lebih lama jika dibanding beli motor dengan DP hingga 4-5juta tadi.
Gimana masyarakat ga ngiler coba hanya dengan uang segitu udah bisa nenteng pulang motor baru yang kinclong menclong belum berdebu. Asal nantinya mereka tidak keblinger aja dengan beban angsuran yang jelas lebih besar dan lebih lama jika dibanding beli motor dengan DP hingga 4-5juta tadi.
Namun kemampuan masyarakat untuk memiliki
motor ini rupanya tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar mengenai tata
tertib lalu lintas dan pemahaman untuk mematuhi rambu-rambu yang terpasang di
jalan. Banyak sekali, sekarang ini, masyarakat yang jika berkendara cenderung
egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Rambu lalu lintas yang telah dipasang
sebagai alat pengatur para pengendara, baik roda dua atau lebih, banyak yang
tidak menggubrisnya. Jangankan rambu yang di pinggir jalan, traffic light yang
sebagian berada di tengah jalan aja sering banget tidak diindahkan.
Heran deh, sudah jadi pengetahuan
umum jika lampu menyala merah artinya berhenti. Sejak kecil pun kita juga sudah
diajarkan jika lampu menyala merah berarti kita harus berhenti di tempat yang
telah disediakan, biasanya akan tampak marka jalan dan batasannya. Tapi yang
saya amati beberapa bulan belakangan ini semakin banyak orang-orang yang
melanggar lampu merah. Dan yang melanggarnya pun bukan hanya pemuda, tapi juga
pemudi, ibu-ibu, bapak-bapak, om-om, tante-tante, kakek-kakek, nenek-nenek.
Komplit banget dah. Eehh bahkan anak-anak seumuran 12-15tahunan gitu juga
banyak yang melanggar lho. Haduuhh..sepertinya kok semakin banyak orang yang
tidak mengindahkan etika di jalan raya.
Misal nih, lampu sedang menyala
merah. Semestinya kita menunggu hingga lampu berganti hijau baru kemudian kita
mendapat kesempatan untuk melaju. Tapi pada kenyataannya, sekarang ini banyak
yang tidak sabaran. Sekiranya jalan agak sepi, walopun belum jatahnya jalan,
udah pada banyak yang langsung tancap gas. Padahal menurut detikan yang
terpasang di atas lampu, jatah hijaunya masih ada sekitar 30detik lagi. Disuruh
nunggu ga sampe semeniiittt aja udah ga sabar. Lah itu kalo selamat, kalo
tetiba ada motor yang datang dari arah yang berlawanan dan memang pas jatahnya
dia dapat lampu hijau dan braakkk!! Yang rugi sapa coba? Nanggung kerugian kok
ngajak2. Rugi waktu, karena jadi terlambat tiba di tujuan, rugi tenaga karena
pasti badan ada yang memar dan kesakitan yang diderita, rugi uang karena harus
mengganti kerusakan yang dialami. Tidak memikirkan kepentingan orang lain,
hanya memburu nafsu sendiri untuk cepet-cepet tiba di tujuan.
Ada juga yang sok sabar, masih mau
nunggu giliran jalan. Tapi begitu detikan nunjukin di angka 4, udah banyak juga
pemotor yang ngacirrr. Atau kalo bukan pemotor, yang naik mobil pun udah ribut
dengan klaksonnya. Ampuunn deh. Nunggu 4detik gitu apa susahnya sih? Apa kalo
4detik itu belum juga jalan, si pengendara mobil trus jadi telat gitu ke
kantornya?? Ya sapa suruh situ berangkat telat. Bangun lebih pagi kek, biar ga
buru-buru di jalan… *jadi emosi nih* Hehehee…
Jika mental masyarakat kita di jalan
raya hanya sampai sebatas mementingkan diri sendiri seperti itu, mana mungkin
bisa mewujudkan kenyamanan berlalu lintas di negeri sendiri. Jadi rasa-rasanya
wajar saja kan kita merasa iri saat melihat betapa teraturnya kehidupan di
negara-negara yang lebih maju itu. Betapa mereka dengan patuhnya berkendara di
jalanan dan kondisi lalu lintas pun tidak semrawut.
Alangkah lebih baik lagi jika semua
aturan yang sudah disepakati itu kita patuhi dengan kesadaran masing-masing. Semua
memang harus diawali dari diri sendiri. Semoga jika masing-masing menyadari
betapa pentingnya menjaga etika berlalu lintas ketertiban dan keteraturan
berkendara di jalan raya bisa kita nikmati, suatu hari ini.
Yuk!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar