Rabu, 28 Mei 2014

Ketika Daun-daun Luruh Satu-satu


Setelah merasakan perjalanan mencintai, ãkü seolah dibawa pada situasi yang baru, suatu situasi-suatu tempat ýάnğ mengatasi emosi, keinginan, perasaan2.
Ãkü seolah disadarkan ketika ãkü tinggal di tengah2 emosi, keinginan, kehangatan, kemesraan dan perasaan2 itu..
Ãƙü akan terus mengalami kesepian, kecemburuan, kemarahan, prasangka, kesedihan, kesendirian.
Мüήġƙîn karena hal2 itulah ýάnğ merupakan ungkapan terhadap perasaan ditinggalkan.

Ãkü sekarang seolah diajak üήτuK menuju tempat ýάnğ bãrù, tempat ϑìmãήά ãkü merasakan rasa aman, yaitu HATI.
Sudah saatnya ãkü menyimpan €íñτå̀́ itu di kedalaman hati, đãή tidak dålãм perasaan dan emosi saja.
ÞέRήAн dulu ãkü mengira bahwa perasaan €íñτå̀́ itu harus diungkapkan melalui banyak đãή seringnya sapaan kata, kalimat melalui sms maupun telpon, atau diungkapkan saat perjumpaan melalui pelukan đãή genggaman tangan..
Ketika itu tîϑαƙ hadir lagi ãkü merasa sepi đãή ditinggalkan.

Sekarang tempat baru itu (hati) mengundangku utk belajar mencintai ýάnğ hadir dålãм tindakan memahami, mengerti, mendengarkan, membiarkan, membebaskan, meneguhkan, menguatkan, đãή memberi harapan..
Dan akhirnya mengajakku üήτuK hening dan diam...
Dari dan ke dålãм HATI berbisik, mencintai itu tetap menjadi suatu misteri.



** pernah di posting di https://www.facebook.com/oktarini.zaendhi?sk=notes#!/notes/oktarini-zaendhi/ketika-daun-daun-luruh-satu-satu/299751966704966

Tidak ada komentar:

Posting Komentar